HEADLINE NEWS

Kategori

Selain Perintah Tahan, JPU Tuntut Pidana 18 Bulan, Oknum Pejabat BPN Kanwil Sumut

Terdakwan Hadjral Aswat Bauty oknum BPN Kanwil Sumut

MEDAN  |  kabar24jam.com

Kamis, 14 Oktober 2021

   Oknum pejabat Badan Pertanahan Nasional Kantor Wilayah Provinsi Sumatera Utara ( BPN- Kanwil Sumut) dituntut pidana agar majelis hakim Pengadilan Negeri ( PN ) Medan menghukum terdakwa Hadjral Aswat Bauty selama 1 tahun 6 bulan dengan perintah agar terdakwa segera ditahan.

  Pembacaan tuntutan tersebut diucapkan jaksa Apriyanto Naibaho dari Kejari Medan didepan persidangan dihadapan majelis hakim yang diketuai Abdul Qadir dan terdakwa serta Penasehat Hukumnya, Kamis ( 14/10/2021) sore.

   Menurut JPU Aprianto terdakwa Hadjral Aswat Bauty terbukti melanggar pasal 44 ayat 1 tentang KDRT. hal yang memberatkan, perbuatan terdakwa meresahkan masyarakat. Khususnya terhadap korban Cindy Laurenchia Kaluku . Sedangkan hal yang meringankan terdakwa bersikap sopan dan belum pernah dihukum.

  Selain itu dalam nota tuntutan JPU Aprianto juga menerangkan, terdakwa terbukti melakukan kekerasan dalam rumah tangga hingga saksi korban Cindy mengalami luka memar pada kaki dan tangan sebelah kiri sesuai hasil Visum et Evertum.

   Atas tuntutan JPU tersebut, Penasehat hukum terdakwa meminta waktu untuk menyusun nota pembelaan. 

  Usai mendengarkan tuntutan JPU Aprianto, majelis hakim menunda persidangan hingga pekan depan.

  Sebelumnya dalam persidangan diketahui, Korban Cindy Laurenchia Kaluku (istri- red) acap kali dipukuli, namun Cindy tidak pernah melaporkan perlakuan suaminya itu kepada keluarga atau orang lain. Hal itu dilakukannya karena ingin mempertahankan rumah tangganya. Hal ini terungkap dalam kesaksian Saksi korban Cindy diruang sidang cakra4, Kamis (16/09/2021), hingga pukul 20.30 Wib.

  Cindy juga menerangkan, memang perbuatannya salah, namun itu dilakukannya untuk menutupi kebutuhan rumah tangga.

   “Memang salah, aku pinjam online tanpa sepengetahuan suami, namun itu dilakukan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya,” ucap Cindy sembari menangis didalam ruang sidang”.

   Kemudian Cindy menceritakan peristiwa tersebut kepada majelis hakim, "Waktu kejadian pada Senin 17 Mei 2021, meski saya sudah bersujud minta maaf, namun terdakwa seperti kesetanan terus menampar pipinya hingga memukul lengan kirinya.

   “Sebab terdakwa hanya memberikan kebutuhan hidup untuk membiayain 4 orang anak hanya Rp500 ribu /perbulan. Jadi tidak mencukupi pak hakim, ” ucap Mantan Pramugari maskapai penerbangan swasta ini sambil menitihkan air mata.

   Dalam persidangan yang dipimpin Ketua Majelis Hakim Abdul Qadir, Cindy mengatakan bahwa dirinya sudah tidak tahan lagi selalu mendapat kekerasan oleh terdakwa (suami).

   “Tidak tahan pak, karena selama 10 tahun berumahtangga sering marah dan main tangan. Namun hal itu tidak pernah cerita sama orang,” ucap ibu beranak empat itu.

   Ketika ditanya Ketua Majelis Hakim Abdul Qadir sewaktu menikah dengan terdakwa statusnya lajang atau duda?, Cindy menjawab waktu itu dia sudah duda.

   Namun setelah berumah tangga, dia baru tahu kalau suaminya itu bercerai dengan istri pertamanya karena sering mendapat kekerasan sama seperti dirinya.

   “Jadi kalau suamimu minta maaf apakah kamu mau memaafkan?”, tanya Ketua majelis hakim spontan Cindy menjawab tidak mau pak hakim.

   Begitu juga mengenai perjanjian di Notaris tentang perdamaian, Cindy pun menolaknya sebab sudah terlalu sakit, Sebutnya lagi ia ingin suaminya ditahan.

   Sementara itu, Lukmanto yang merupakan tetangga korban mengatakan kalau saksi korban sekitar setengah sepuluh malam datang ke rumahnya. Saksi mengadukan bahwa dia mendapat kekerasan fisik dari suaminya dan berniat melaporkan kepada Polsek Sunggal. Meski sempat di cegah namun niat korban sudah kuat ingin melaporkan.

  Lukmanto bersama istrinya mendampingi saksi korban langsung melaporkan ke Polsek Sunggal.

   Sementara itu saat majelis hakim mengkonfrontir kepada terdakwa, membantahnya terutama soal uang perbulan untuk istrinya Rp500 ribu. Dan sekaitan soal marah-marah dan memukul ia pun membantahnya.

   Kemudian majelis hakim menanyakan apakah saksi tetap pada keterangannya, saksi menyatakan tetap. Untuk kesaksian Lukmanto, terdakwa membenarkan kesaksian tersebut.

  Selanjutnya majelis hakim pun menutup persidangan dan menundanya hingga pekan depan.

   Setelah persidangan selesai, Cindy terlihat histeris melihat suaminya keluar dari ruang sidang tanpa ditahan.

   Namun hal tersebut, tidak berlangsung lama karena salah satu anggota majelis hakim menenangkan korban. “Dan meminta agar korban bersabar,” ujarnya. ( A_06 )

Previous
« Prev Post

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *