HEADLINE NEWS

Kategori

Kaum Milenial Dorong Pemkab Taput Realisasikan Green Economy Lewat Sektor Pertanian



MEDAN  |   kabar24jam.com 

Selasa, 21/08/2021.

   Kaum Milenial Indonesia Wilayah Tapanuli Utara (Taput) yang dipimpin oleh Doni Rahmadi Butar-butar, baru-baru ini menggelar diskusi virtual via aplikasi Zoom Meeting. Di webinar yang bertajuk "Membangun Ekonomi Hijau Lewat Sektor Pertanian" yang diselenggarakan pada Sabtu, 18 September 2021. Sebagai narasumber dalam webinar tersebut antara lain, mantan Bupati Serdang Bedagai yang kini menjabat sebagai Duta Organik Asia Ir. H. Soekirman, Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Taput Longgos Pandiangan, Akademisi dari Fakultas Pertanian USU Ir. Yusak Maryunianta, MP, Pengamat Ekonomi Pertanian IPB University dan Dosen Ekonomi Pembangunan USU Drs. Murbanto Sinaga, MA. Adapun peserta di webinar ini, dari kalangan mahasiswa, akademisi, beberapa pimpinan OPD Kab. Tapanuli Utara, Petani Milenial Taput dan masyarakat umum. 

   Doni menjelaskan kepada kabar24jam.com Senin, 20 September 2021 bahwa tujuan dilaksanakanya webinar ini ada beberapa point penting agar bisa tercapai menjadi program di daerah Taput, sebagai sarana edukasi bagi peserta, untuk mengkampanyekan penerapan program ekonomi hijau, pertanian yang berkelanjutan untuk mencapai pertumbuhan ekonomi hijau, mengetahui strategi dan tantangan dalam suksesi penerapan ekonomi hijau, dan berharap program membangun ekonomi hijau lewat sektor pertanian terealisasi di Taput. 

   Ir. H. Soekirman yang di daulat sebagai salah satu narasumber webinar mengungkapkan, bahwa pertanian harus selalu berintegrasi dengan peternakan seperti motto Masyarakat Suku Batak "Gabe Na Niula, Sinur Na Pinahan"  yang digunakan dan diyakini dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu Ir. H. Soekirman juga menyampaikan untuk membangun pertanian yang berkelanjutan juga harus ada 4K yakni Kesadaran, Kebijakan, Kelembagaan dan Kebersamaan", jelasnya pada peserta webinar.

   Dimana 4 K tersebut merupakan suatu prinsip yang mana bisa membangun : 1. Kesadaran produsen konsumen dan pemangku kepentingan,  2. Mensosialisasikan kebijakan, 3. Revitalisasi dan empowering lembaga pertanian, 4. Kebersamaan antara seluruh elemen masyarakat, pemerintah, lembaga NGO dan lainnya.

   Sementara Kepala Dinas Ketahanan Pangan Taput Longgos Pandiangan menyampaikan bahwa Pertanian di Taput menjadi tulang punggung perekonomian. "Dimana kontribusi sektor pertanian terhadap ekonomi 43,31% dari total PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) Tahun 2020. Selain itu program yang dilakukan Pemkab Taput dalam mendukung Ekonomi Hijau lewat sektor pertanian,adalah desa presisi (smart village), bantuan alsintan pra panen dan pasca panen, pengolahan lahan gratis, infrastruktur pertanian, dan bantuan sarana produksi pertanian seperti benih/bibit unggul pertanian, bibit ternak dan pupuk organik"jelas Longgos di webinar tersebut. 

   Dari sudut pandang pertanian sendiri, akademisi Fakultas Pertanian USU  Ir. Yusak Maryunianta, MP,menyampaikan Ekonomi hijau di Indonesia secara sistematis memang belum dilakukan. Namun pelaksanaan produksi ramah lingkungan sudah dimulai di berbagai sektor/bidang. 

  Selain itu, pertanian juga memiliki multi peran / wajah manis,dalam perannya terhadap pertumbuhan ekonomi. Pertanian berperan dalam menyumbang swasembada beras pada tahun 1985, menyumbang  (2019-2020) 13,5-15 ,5% dari PDB nasional, 42,9-43,3% dari PDRB TU, menghasilkan pertumbuhan PDB pertanian nasional (2019-2020) tetap positif > 2 %, TU 2,3 %, lapangan pekerjaan bagi 30%  penduduk yg bekerja., TU> 80% dan menyumbang devisa sekitar USD 26,9 s/d 31,2 miliar/tahunnya", terangnya pada peserta webinar kemarin.

   Dari sudut pandang ekonomi pembangunan, Drs. Murbanto Sinaga, MA menilai pada penerapan green economics, sosial cost atau biaya sosial yang harus ditanggung sangatlah besar apabila pertanian konvensional tidak bergeser ke penerapan ekonomi hijau. 

   "Bila melihat kertas kerja dari bappenas tahun 2007, disana diungkap jika kita bertahan pada ekonomi konvensional bukan pada ekonomi hijau maka 2030 emisi gas rumah kaca akan meningkat 6 derajat celcius. Selain itu, Eksternalitas negatif yang timbul apabila kita bertahan pada Pertanian yang tidak menerapkan Green Economy adalah banjir, kebakaran hutan, kalau dirupiahkan sudah besar biaya yang ditanggung oleh seluruh masyarakat", paparnya pada webinar.

   Murbanto jugamenjelaskan, ekonomi hijau merupakan salah satu program dari Sustainable Development Goals (SDGs) dimana tujuannya memenuhi kebutuhan sekarang tanpa mengorbankan kebutuhan di masa mendatang. 

   "Ekonomi hijau merupakan salah satu program dari Sustainable Development Goals (SDGs),dimana tujuannya memenuhi kebutuhan sekarang tanpa mengorbankan kebutuhan di masa mendatang. Jangan pula nanti yang kaya tambah kaya, yang miskin hanya tambah anak", sebut Murbanto sambil bersenda gurau.

   Sementara narasumber terakhir, pengamat ekonomi pertanian IPB University Prima Gandhi, S.P., M.Si menerangkan bahwa adanya konsep green economy karena adanya peningkatan perdagangan, lonjakan konsumsi sumberdaya, serta sebagai upaya meminimalisir dampak buruk dari pertanian dengan konsep non green economy.  Menurutnya green economy merupakan sebuah rezim yang meningkatkan kesejahteraan manusia, dan kesetaraan sosial serta mengurangi resiko lingkungan secara signifikan. Green economy juga merupakan perekonomian yang rendah atau tidak menghasilkan emisi karbon, dioksida dan polusi lingkungan, hemat sumber daya alam dan berkeadilan sosial. "Tujuan dari pertanian berkelanjutan adalah untuk meminimalkan dampak buruk. Keberlanjutan bukan hanya secara global, tetapi dalam waktu yang tidak terbatas dan untuk seluruh makhluk hidup termasuk manusia. Praktik pertanian berkelanjutan umumnya meliputi rotasi tanaman yang mengurangi hama, serangga, gulma dan penyakit tanaman lainnya, menyediakan sumber alternatif nitrogen tanah, mengurangi erosi tanah, dan mengurangi resiko kontaminasi air oleh bahan kimia pertanian, mengurangi kebutuhan pestisida, peningkatan pengendalian gulma mekanis/biologis, praktek konservasi tanah dan air serta penggunaan input alami atau sintetis dengan cara yang tidak menimbulkan bahaya yang berarti bagi manusia, hewan dan lingkungan (pertanian presisi)", jelasnya pada webinar Sabtu kemarin. ( F_10/Ant )

Previous
« Prev Post

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *