HEADLINE NEWS

Kategori

Sidang Suap Pengadaan Vaksin Sinovac, Saksi Sebut Bukti Transfer Selviwati ke dr. Indra

Suasana persidangan.  Dua personil Polisi yang dihadirkan sebagai saksi dalam penyuapan pengadaan vaksinasi dalam persidangan yang dihadiri terdakwa secara online.


MEDAN  |  kabar24jam.com 

Rabu, 15/09/2021.

  Sidang perkara penyuapan pengadaan vaksinasi Covid19 merk Sinovac berbayar melibatkan Dua ASN dan Satu Pengepul kembali berlangsung diruang Cakra 2 secara online dipimpin majelis hakim yang diketuai Saut Maruli Tua Pasaribu (wakil ketua PN Medan), Rabu (15/09/21), sekira pukul 15.30 Wib. 

   Adapun Agenda sidang kali ini, mendengarkan pembacaan nota Eksepsi dari dr. Kristinus Saragih selaku ASN di Dinkes Sumut ( split ). Sedangkan terdakwa dr Indra selaku ASN dr Rutan Tanjung Gusta dan Selviwaty selaku pengepul. 

   Kedua terdakwa diketahui pada sidang sebelumnya tidak mengajukan eksepsi atau keberatan terhadap dakwaan JPU. Sehingga dilanjutkan dengan mendengarkan keterangan kedua saksi polisi yang melakukan penangkapan.

   Dalam kesaksiannya, Eliakim dan Suherman menuturkan sebelumnya saksi mendapatkan informasi tentang penyuntikan vaksinasi Covid19 merk Sinovac berbayar di komplek perumahan Jati Juntions. Kemudian melakukan penelusuran kegiatan tersebut.

   "Tepatnya pada 18 Mei 2021 di Jalan Perintis Kemerdekaan tepat di Kompleks Jati Jutions, Kecamatan Medan Timur, Kota Medan, ada pelaksanaan vaksinasi berbayar dan tak berizin. Kemudian kita amankan sebanyak 10 orang termasuk Selviwaty selaku pengepul atau mengumpulkan orang yang mau disuntik vaksinasi Covid19 berbayar," terang saksi didepan persidangan.

   "Saat proses pemeriksaan Selviwaty alias Selvi mengaku bahwa vaksinasi Covid19 Sinovac tersebut diperoleh dari dr Kristinus Saragih dan dr Indra," papar Eliakim dan Suherman dihadapan majelis hakim dipersidangan.

   Ketika dipertanyakan majelis hakim barang bukti yang ditemukan terhadap terdakwa Selvi,...??? tidak ditemukan uang, tetapi menemukan bukti transfer dari orang vaksinasi kepada Selvi dan bukti transfer dari Selvi kepada dr Indra.

   "Jadi tidak ada uang yang ditemukan, hanya bukti transfer saja pak hakim ," ucap saksi.

  Berdasarkan pengakuan Selvi tersebut, pihak penyidik langsung menghubungi dr Indra agar datang ke Poldasu, guna mengklarifikasi. Namun saat itu terdakwa belum juga hadir sehingga dilakukan penjemputan.

  Kemudian setelah dr Indra kita periksa lalu ditindaklanjuti dengan mengamankan barang bukti yang ditemukan dalam lemari es dirumah dr. Indra.

   Saat pengamanan barang bukti, penuntut umum sempat mempertanyakan kenapa pada saat itu yang mengambil barang bukti bukanlah terdakwa, Menurut saksi terdakwa sudah menghubungi istrinya dan berpesan jangan ribut- ribut dirumahnya. Saat barang bukti diambil dari rumah terdakwa dr. Indra disaksikan istri dan anak terdakwa.

   Setelah mendengarkan keterangan dua personil kepolisian, Ketua Majelis Hakim lalu mengkonfrontirnya dengan kedua terdakwa.

   Menurut dr Indra bahwa benar ia ditelephon oleh Eliakim untuk datang ke Poldasu dugaan adanya penyuntikan vaksin palsu, namun sesampainya di Fly Over pihak kepolisian berpapasan dengan dr. Indra, langsung menangkap dan membawanya ke Poldasu. 

   "Benar pada saat itu, ia mendapat telepon dari Eliakim yang memang dikenalnya, meminta terdakwa datang ke Poldasu agar membedakan vaksin asli dan palsu. Kesediaan itu karena dia paham mana yang asli dan mana yang palsu," ucapnya serasa mengaku telah dijebak.

   Sementara itu, Selvi yang diminta tanggapan sekaitan kesaksian kedua personil polisi hanya mengatakan tidak mengetahui vaksinasi Sinovac merupakan jatah untuk Lapas Klas I Tanjunggusta, Medan.

   "Tahunya pada saat proses pemeriksaan di Poldasu," ujar Selvi. Usai mendengarkan kesaksian keduanya, mahelus hakim tunda persidangan hingga pekan depan.

   Terpisah saat dikonfirmasi tentang pemilik tempat atau orang yang membantu Selvi maupun dr Indra serta dr kristinus saat pelaksanaan Vaksinasi Covid19 di Jati Juntions, Penuntut umum menuturkan hanya sebagai saksi termasuk untuk Elidanawati dan Chufransyah yang melakukan penyuntikan karena hanya disuruh oleh dr Indra.

   Pada persidangan sebelumnya JPU Robertson Pakpahan mengatakan perkara ini bermula saat terdakwa Selviwaty menghubungi Kristinus Sagala meminta agar rekan-rekannya divaksin.

   "Awalnya terdakwa Kristinus menolak, kemudian karena disepakati ada pemberian uang sebesar Rp250 ribu per sekali vaksin untuk tiap orangnya, maka dokter Kristinus bersedia melakukan suntik vaksinasi jenis Sinovac," ucap  Ketua Tim JPU yang juga Kasi Tut Pidsus Kejati Sumut Robertson Pakpahan.

   Kemudian lantaran stok vaksin yang dimiliki terdakwa Kristinus di Dinas Kesehatan tidak cukup, maka Kristinus menyarankan Selviwaty menghubungi terdakwa dr Indra Wirawan yang bertugas sebagai dokter di Rutan Tanjung Gusta. Dan dari sana disepakati tetap 250 ribu sekali vaksin. Dari 250 ribu rupiah itu 220 ribu untuk dokter Indra, sisanya untuk terdakwa Selviwaty.

   "Vaksin itu diperoleh para terdakwa dari sisa Rutan dan ada juga didapatkan dari Dinas (Kesehatan) provinsi," imbuh Robertson.

   Dari hasil penjualan vaksin itu, ketiga terdakwa kata Robertson memperoleh keuntungan yang bervariasi. Untuk dokter Kristinus Sagala memperoleh Rp142.750.000 dari 570 orang. Sedangkan yang diterima Selviwaty sebesar Rp11 juta.

   "Untuk dokter Indra memperoleh Rp134.130.000 rupiah dari 1.050 orang. Yang diterima Selviwaty sebesar Rp 25 juta," terang Robertson. ( A_06 ).

Previous
« Prev Post

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *