HEADLINE NEWS

Kategori

Hubungan Perilaku Bullying Terhadap keterampilan Sosial Mahasiswa Papua Di Universitas Sumatera Utara



MEDAN  |  kabar24jam.com 

Selasa, 14/09/2021.

RELATIONSHIP BULLYING BEHAVIOR TO SOCIAL SKILLS OFPAPUA STUDENTS AT UNIVERSITY OF NORTH SUMATRA

Hagar Desi Rumpedai

Ilmu Kesejahteraan Sosial, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara

desirumpadai@gmail.com

Agus Suriadi,S.Sos.M.Si

Ilmu Kesejahteraan Sosial, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara

agusur@gmail.com

ABSTRAK

   Skripsi ini berjudul tentang “ Hubungan Perilaku Bullying Terhadap Keterampilan Sosial Mahasiswa Papua di Universitas Sumatera Utara”. Kekerasan antar teman sebaya atau yang biasa dikenal dengan bullying merupakan suatu tindak kekerasan fisik maupun psikologis yang dilakukan seseorang atau kelompok, yang di maksudkan untuk melukai, membuat takut atau membuat tertekan seseorang yang dianggap lemah, yang biasanya secara fisik lebih lemah, minder dan kurang mempunyai teman, sehingga tidak mampu untuk mempertahankan diri.

   Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana Hubungan Perilaku Bullying Terhadap Keterampilan Sosial Mahasiswa Papua di Universitas Sumatera Utara. Penelitian ini menggunakan metode penelitian survei dengan menggunakan pendekatan kuantitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, kuesioner dan studi kepustakaan. Hasil penelitian menunjukan berdasarkan  hasil pengujian uji korelasi diperoleh nilai korelasi antara perilaku bullying dan keterampilan sosial adalah 0,189, dengan nilai Asymp. Sig. (2-tailed) = 0,159 > 0,05, maka terdapat hubungan antara perilaku bullying dan keterampilan sosial, namun hubungan tersebut masih belum signifikan.

Kata Kunci  : Bullying, Keterampilan Sosial, Mahasiswa Papua

ABSTRACT

This thesis is entitled "The Relationship of Bullying Behavior to the Social Skills of Papuan Students at the University of North Sumatra". Violence between peers or commonly known as bullying is an act of physical or psychological violence perpetrated by a person or group, which is intended to injure, frighten or depress someone who is considered weak, who is usually physically weaker, inferior and has less friends, so unable to defend themselves.

   This study aims to determine how the relationship between bullying behavior and social skills of students at the University of North Sumatra. This study uses a survey research method using a quantitative approach. The data collection techniques used were Observation, Questionnaire and Literature Study. The results showed that based on the results of the correlation test, the correlation value between bullying behavior and social skills was 0.189, with the Asymp value. Sig. (2-tailed) = 0.159 > 0.05, then there is a relationship between bullying behavior and social skills, but the relationship is still not significant.

Keyboard : Bullying, Social Skills, Papuan Students

PENDAHULUAN

   Manusia merupakan makhluk sosial yang tidak terlepas dari manusia lainnya khususnya di lingkungannya sendiri. Manusia dalam beraktivitas selalu melibatkan orang lain dan tidak bisa hidup tanpa orang lain serta senantiasa berusaha untuk menjalin hubungan dengan orang lain. (Nashori, 2003: 27) menyatakan bahwa berbagai pandangan dan pengalaman hidup menunjukkan bahwa keberhasilan hidup manusia banyak ditentukan oleh kemampuannya mengelola diri dan kemampuan mengelola hubungan dengan orang lain.

   Interaksi dilakukan untuk saling memenuhi kebutuhan masing-masing dan dapat hidup dengan nyaman. Agar interaksi berjalan dengan baik diperlukan keterampilan sosial. Keterampilan sosial memiliki peran penting dalam hidup seseorang. Keterampilan tersebut dibutuhkan untuk menjalin hubungan di rumah, di kampus atau di lingkungan tempat tinggal, sehingga terjalin pertemanan yang berkualitas. Cartledge & Milburn (1992) menyatakan bahwa keterampilan sosial merupakan kemampuan seseorang atau warga masyarakat dalam mengadakan hubungan dengan orang lain dan kemampuan memecahkan masalah, sehingga dapat beradaptasi secara harmonis dengan masyarakat di sekitarnya. 

   Namun dalam realitanya mencapai suatu keterampilan sosial sangat sulit untuk mencapai masyarakat yang tentram dan damai dengan adanya berbagai macam permasalahan sosial yang ada salah satunya yaitu Kekerasan.

   Kekerasan merupakan suatu fenomena krisis moral. Krisis yang didapat dari berbagai macam tekanan hidup. Suatu krisis yang bisa menjadi barometer kegagalan membangun karakter diri para remaja dan masyarakat. Banyak sekali kasus kekerasan di kalangan remaja. Kekerasan antar teman sebaya atau yang biasa dikenal dengan bullying merupakan suatu tindak kekerasan fisik maupun psikologis yang dilakukan seseorang atau kelompok, yang dimaksudkan untuk melukai, membuat takut atau membuat tertekan seseorang yang dianggap lemah, yang biasanya secara fisik lebih lemah, minder dan kurang mempunyai teman, sehingga tidak mampu untuk mempertahankan diri.

   Di temukan fakta seputar bullying berdasarkan survei yang dilakukan oleh Latitude News pada 40 negara terdapat negara-negara dengan kasus bullying tertinggi di seluruh dunia. Dan faktanya Indonesia masuk di urutan ke dua. Lima negara dengan kasus bullying tertinggi pada posisi pertama ditempati oleh Jepang, kemudian Indonesia,Kanada, Amerika Serikat, dan Finlandia.

 (sumber:http://uniqpost.com/50241/negara-negara-dengan-kasus-bullying-tertinggi-indonesia-di-urutan-ke-2/). Kasus bullying dapat terjadi di mana saja, termasuk di lingkungan sekolah, tempat bermain, di rumah, di jalan, dan di tempat hiburan. Sesuai dengan data yang diperoleh dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia, jumlah anak yang menjadi pelaku kekerasan (bullying) disekolah mengalami kenaikan dari 67 kasus pada tahun 2014 menjadi 79 kasus di tahun 2015. (data KPAI, Bullying 2015).

   Berdasarkan hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Sri Wahyuni Rangkuti Pada Tahun 2016 penelitian ini mengangkat bagaimana pengaruh hubungan pertemanan terhadap perilaku bullying di kalangan siswa SMA (studi kasus pada beberapa SMA di kota Medan. Hasil penelitian ini menemukan bahwa semakin tinggi hubungan pertemanan maka semakin rendah perilaku bullyingnya serta semakin rendah hubungan pertemanan seseorang maka semakin tinggi pula tindakan bullyingnya. Hubungan pertemanan bukanlah menjadi satu-satunya faktor utama terjadinya perilaku bullying. Terdapat beberapa faktor lain yang dapat menjadi pengaruh terjadinya perilaku bullying yakni faktor keluarga, faktor lingkungan sekitar, dan faktor dari media.

   Berdasarkan berita yang di dapatkan tentang “Mahasiswa Papua bicara soal rasialisme: 'Ih kalian bau' dan tudingan tukang minum”. Sejumlah mahasiswa Papua yang tengah menimba ilmu di Jakarta bercerita mengenai perlakuan rasialisme dan merendahkan yang sering mereka alami. Salah seorang di antara mereka adalah Tasya Marian dan Priska Mulait yang berasal dari Wamena,Papua. Tasya dan Priska mengatakan, apa yang mereka alami di Jakarta tidak diduga sebelumnya. Tasya menceritakan pengalamannya kesulitan mencari kamar kos. "Ada tulisan kos-kosan, tapi mereka tidak terima saya. Mereka bilang kos-kosannya sudah penuh dan tidak bisa mereka terima orang Papua," kata Tasya.Ia akhirnya tinggal di sebuah kontrakan di kawasan Lenteng Agung, Jakarta Selatan, bersama Priska dan sejumlah mahasiswa asal Papua lainnya. Tak sampai di situ, Tasya mengatakan ada sebuah toko di sisi kontrakannya yang enggan melayani mereka dengan baik, meski ada pula toko yang melayani mereka. Hal itu terjadi saat mereka hendak memasang kompor gas namun petugas toko itu menolak."(Mereka bilang) 'Ih (kalian) bau, kami tidak bisa ke sana'. 'Kami tidak bisa injak kalian punya kontrakan'," ujar Tasya meniru ucapan petugas toko. Pada awal perkuliahan, Tasya mengatakan ia juga menyaksikan teman-teman kuliahnya yang menutup hidung ketika mahasiswa Papua lewat.

   Beberapa mahasiswa non-Papua serta dosen, kata Tasya, pun pernah bertanya langsung kepadanya mengenai hal itu. "Kata dosen, 'Kalian dari Papua suka makan babi mentah ya?' Saya bilang, 'Ibu kalimat itu tidak benar, kami tidak makan mentah tapi kami masak dulu'," ujar Tasya. Priska mengatakan dia sudah membuka diri untuk berteman dengan mahasiswa-mahasiswa non-Papua, tapi menurutnya, hal tersebut tidak terlalu membuahkan hasil. Perlakuan yang mereka alami, membuat mahasiswa Papua cenderung berkumpul dengan mahasiswa Papua lainnya. (Sumber : Callistasia Wijaya dan Heyder Affan, Wartawan BBC News Indonesia,2019) 

   Universitas Sumatera Utara mulai menerima mahasiswa Afirmasi sejak tahun pertama diadakan yaitu tahun 2012. Seluruh mahasiswa Universitas Sumatera Utara asal Papua tersebut tinggal di asrama putra dan asrama putri serta diberikan biaya hidup persemester atau perenam bulan dan akan kembali ke daerah masing-masing untuk membangun daerahnya setelah menyelesaikan kuliahnya di Universitas Sumatera Utara.

   Program beasiswa Afirmasi Pendidikan Tinggi ( ADik) merupakan program pendanaan pendidikan bagi siswa yang memiliki potensi akademik yang baik namun terhalang oleh keterbatasan akses ke perguruan tinggi. Program ini di peruntukkan bagi calon mahasiswa dari daerah papua, papua barat serta daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T). Beasiswa Afirmasi Dikti (ADik) adalah program beasiswa hasil kerjasama Kemdikbud, Unit Percepatan Pembangunan Provinsi Papua dan Papua Barat (UP4B), dan Majelis Rektor PTN Indonesia, dalam rangka meningkatkan sumber daya manusia di Papua dan Papua Barat. (Sumber: website resmi UP4Bhttp://up4b.go.id) serta daerah-daerah terpencil yang sulit mendapatkan akses pendidikan tersebut.

  Maka dari itu berdasarkan hasil studi pendahuluan di Ikatan Mahasiswa Papua pada tanggal 12 Maret 2021 peneliti melakukan wawancara dengan beberapa mahasiswa Papua yang berkuliah di Universitas Sumatera Utara yang menyatakan bahwa mereka sering merasakan bullying oleh teman-teman sebaya baik dari lingkungan sekitar kampus maupun lingkungan masyarakat. Bullying yang banyak di rasakan dengan cara mengejek melalui perkataan, pertanyan-pertanyaan yang di berikan seakan-akan tidak masuk akal (seperti di papua ada mobil, motor, di papua ada nasi apa tidak, di papua tinggal rumah atau hutan, kok kulit orang papua gosong dan rambutnya keriting, sering memanggil orang papua dengan sebutan beta, kok tau bahasa indonesia dll). Dengan hal seperti itu beberapa mahasiswa papua lebih menutup diri, tidak percaya diri karena merasa berbeda, sulit untuk bergaul dengan orang lain. Sehingga kemampuan untuk menciptakan hubungan sosial yang serasi dan memuaskan, penyesuaian terhadap lingkungan, dan mengekspresian diri sulit untuk di lakukan. Berdasarkan data dan uraian di atas peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai Hubungan Perilaku Bullying Terhadap Keterampilan Sosial Mahasiswa Papua Di Universitas Sumatera Utara.

METODE PENELITIAN 

   Pada penelitian ini digunakan metode penelitian survei dengan menggunakan pendekatan kuantitatif. Survei merupakan metode yang digunakan dalam penelitian yang dilakukan dalam pengamatan langsung terhadap suatu gejala dala populasi besar atau kecil. Penelitian dengan menggunakan pendekatan kuantitatif untuk memahami suatu gejala dengan lebih mendalam dengan cara yang tepat (Pendit, 2003).

   Dalam penelitian ini peneliti menggunakan metode survei yang dilakukan untuk memberikan gambaran yang lebih detail mengenai suatu gejala atau fenomena. Penelitian dengan metode survey dengan menyebar kuesioner serta observasi kepada masing-masing responden. Yang di survey dalam penelitian ini adalah pernah tidak responden mengalami bullying, dimana responden mengalami bullying, bullying seperti apa yang pernah responden alami, respon apa pada waktu responden di bullying, dan adakah dampak dari bullying. 

   Responden pada penelitian ini yaitu mahasiswa papua yang berkuliah di Universitas Sumatera Utara yang bergabung di dalam Organisasi Ikatan Mahasiswa Papua (IMP). Mahasiswa papua yang berkuliah di Universitas Sumatera Utara merupakan mahasiswa yang mengikuti Program Beasiswa Afirmasi Pendidikan Tinggi (ADIK) Papua. 

HASIL DAN PEMBAHASAN

     Pengujian analisis bivariat untuk menguji apakah terdapat hubungan yang signifikan antara perilaku bullying dan keterampilan sosial. Sebelum dilakukan pengujian hubungan, terlebih dahulu dilakukan pengujian normalitas data. Pengujian normalitas data dilakukan dengan menggunakan uji normalitas Kolmogorov-Smirnov. 

    Tabel 5.5 disajikan hasil pengujian normalitas Kolmogorov-Smirnov.

    Berdasarkan hasil pengujian normalitas pada Tabel 5.5 diketahui data perilaku bullying berdistribusi normal dengan nilai Asymp. Sig. (2-tailed) = 0,263 > 0,05 dan juga data keterampilan sosial berdistribusi normal dengan nilai Asymp. Sig. (2-tailed) = 0,834 > 0,05. Sehingga pengujian dilanjutkan dengan menggunakan uji korelasi Pearson.

   Berdasarkan hasil pengujian uji korelasi pada Tabel 5.6, diperoleh nilai korelasi antara perilaku bullying dan keterampilan sosial adalah 0,189, dengan nilai Asymp. Sig. (2-tailed) = 0,159 > 0,05, maka terdapat hubungan antara perilaku bullying dan keterampilan sosial, namun hubungan tersebut masih belum signifikan.

   Berdasarkan hasil temuan penelitian yang dilakukan, maka peneliti melakukan pembahasan berdasarkan data penelitian yang telah diolah dari hasil uji statistic yang dilakukan pada responden penelitian menunjukkan bahwa antara variabel X (Bentuk Perilaku Bullying) dengan variabel Y (Keterampilan Sosial) maka terdapat hubungan antara perilaku bullying dan keterampilan sosial, namun hubungan tersebut masih belum signifikan. Hal ini berarti hubungan antara perilaku bullying dan keterampilan sosial yaitu semakin tinggi perilaku bullying maka keterampilan sosial semakin rendah atau sebaliknya semakin rendah keterampilan sosial maka perilaku bullying tinggi.   

KESIMPULAN 

    Dari hasil analisis data, maka dapat disimpulkan bahwa hubungan perilaku bullying terhadap keterampilan sosial mahasiswa papua di universitas sumatera utara yaitu :

a.    Berdasarkan hasil uji statistic yang dilakukan pada responden penelitian menunjukkan bahwa antara variabel X (Bentuk Perilaku Bullying) dengan variabel Y (Keterampilan Sosial) maka terdapat hubungan antara perilaku bullying dan keterampilan sosial, namun hubungan tersebut masih belum signifikan. Hal ini berarti hubungan antara perilaku bullying dan keterampilan sosial yaitu semakin tinggi perilaku bullying maka keterampilan sosial semakin rendah atau sebaliknya semakin rendah keterampilan sosial maka perilaku bullying tinggi. Perilaku Bullying sendiri bisa memberikan dampak positif kepada individu, ketika individu memiliki keterampilan sosial yang baik maka akan kecil kemungkinan individu mendapatkan perilaku bullying. Pada kenyataan factor-faktor keterampilan sosial seperti keluarga, lingkungan yang merupakan lingkungan pertama yang membentuk individu, lingkungan sekitar, dan media bisa menjadi factor lainnya penyebab terjadinya perilaku bullying. 

b.     Dari 57 responden  berdasarkan distribusi frekuensi dan persentase berdasarkan jenis kelamin terdapat 18 (31,6%) responden dengan jenis kelamin laki-laki, sementara terdapat 39 (68,4%) responden dengan jenis kelamin perempuan.

c. Distribusi frekuensi dan persentase berdasarkan usia diketahui paling banyak responden dengan usia 20 tahun, yakni sebanyak 12 (21,1%), sementara paling sedikit responden dengan usia 17 tahun, yakni sebanyak 1 (1,8%) responden.

d. Distribusi frekuensi dan persentase berdasarkan pertanyaan pada kuesioner untuk variabel perilaku bullying diketahui untuk perilaku bullying fisik paling banyak responden menjawab TP sebanyak 50 (87,72%). Sementara paling sedikit responden menjawab 1 (1,75) menjawab SS dan sebagian menjawab 1 (1,75%) menjawab S . Perilaku bullying verbal paling banyak responden menjawab TP 39 (68.42%) sedangkan paling sedikit responden menjawab SS sebanyak 2 (3.51%). Perilaku bullying relasional 48 (84.21%) responden menjawab TP sedangkan paling sedikit menjawab SS 1 (1.75%) dan sebagian menjawab 1 (1,75%) KK. Cyber bullying paling banyak responden menjawab TP 43 (75.44%) sedangkan paling sedikit menjawab KK 1 (1.75%).

e. Distribusi frekuensi dan persentase berdasarkan pertanyaan pada kuesioner untuk variabel keterampilan sosial diketahui variabel terikat (Y) faktor-faktor yang mempengaruhi keterampilan sosial yaitu keluarga paling banyak menjawab SS sebanyak 39 (68.42%) sedangkan paling sedikit menjawab J 1 (1.75%) responden menjawab TP dan sebagian menjawab 1(1,75). Faktor lingkungan paling banyak menjawab SS sebanyak 38 (66.67%) sedangkan paling sedikit 1 (1.75%) responden menjawab J dan juga sebagian menjawab 1 (1,75%) SS. Faktor kepribadian paling banyak menjawab 24 (42.11%) TP. Faktor rekreasi paling banyak menjawab KK sebanyak 21 (36.84%) sedangkan paling sedikit menjawab S sebanyak 3 (5.26%). Faktor pergaulan dengan lawan jenis paling banyak menjawab 29 (50.88%) responden menjawab TP sedangkan paling sedikit menjawab SS sebanyak 3 (5.26%). Faktor pendidikan paling banyak menjawab KK 26 (45.61%) sedangkan paling sedikit menjawab SS sebanyak 2 (3.51%). Faktor persahabatan dan solidaritas kelompok paling banyak menjawab 20 (35.09%) responden menjawab TP sedangkan paling sedikit menjawab S sebanyak 2 (3.51%) dan juga sebagian menjawab responden menjawab SS sebanyak 2 (3.51%). Faktor pekerjaan paling banyak menjawab menjawab SS sebanyak 22 (38.60%) sedangkan paling sedikit menjawab J sebanyak 4 (7.02%).

f. Berdasarkan Uji Normalitas diketahui data perilaku bullying berdistribusi normal dengan nilai Asymp. Sig. (2-tailed) = 0,263 > 0,05 dan juga data keterampilan sosial berdistribusi normal dengan nilai Asymp. Sig. (2-tailed) = 0,834 > 0,05. Sehingga pengujian dilanjutkan dengan menggunakan uji korelasi Pearson.

g. Berdasarkan Uji Korelasi antara perilaku bullying dan keterampilan sosial diperoleh nilai korelasi antara perilaku bullying dan keterampilan sosial adalah 0,189, dengan nilai Asymp. Sig. (2-tailed) = 0,159 > 0,05, maka terdapat hubungan antara perilaku bullying dan keterampilan sosial, namun hubungan tersebut masih belum signifikan.


SARAN 

Berdasarkan hasil penelitian yang telah disimpulkan di atas, maka penulis dapat memberikan beberapa saran sebagai berikut :

1. Sebaiknya kepada mahasiswa papua dapat meningkatkan keterampilan sosial yang ada pada diri setiap mahasiswa sehingga dapat menemukan cara bagaimana mengatasi dampak bullying yang dialami.

2. Bagi peneliti selanjutnya, diharapkan apabila akan melakukan penelitian yang sejenis, dapat mempertimbangkan masalah alokasi waktu penelitian yang digunakan untuk mengantisipasi hasil penelitian nantinya. Peneliti selanjutnya juga diharapkan dapat mencari faktor-faktor lain yang diduga dapat meningkatkan keterampilan sosial.

3. Hasil penelitian ini belum sepenuhnya sempurna, mungkin masih ada yang tertinggal atau terlupakan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan penelitian ini dapat dilanjutkan dan dikaji ulang yang tentunya dengan lebih teliti lagi, kritis, dan lebih mendekati guna menambah wawasan pengetahuan bagi pembaca.

DAFTAR PUSTAKA 

Siagian,M. Metode Penelitian Sosial. Grasindo Monoratama

Sugiyono, 2007, Metodologi Penelitian Bisnis, PT. Gramedia, Jakarta

Sugiyono.2009. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta

Sumber Online

Agusti, D. (2020). Dampak Bullying Terhadap Perilaku Siswa di SMP Negeri 1 Muaro Jambi Kecamatan Jambi Luar Kota Kabupaten Muaro Jambi. http://repository.uinjambi.ac.id/3170/2/SKRIPSI%20DEFRI%20AGUSTI%20.pdf

Atika, N.(2020) Adaptasi Sosial Budaya Mahasiswa Penerima Beasiswa Afirmasi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara

    http://repositori.usu.ac.id/handle/123456789/28646

Izzati, N. (2014). Pengaruh Keterampilan Sosial Terhadap Kemampuan Komunikasi Matematis Mahasiswa. Jurnal Pendidikan Sosial dan Ekonomi : Vol 3 No 1. https://www.syekhnurjati.ac.id/jurnal/index.php/               edueksos/article/view/417/368

Muliasari, A. N. (2019). Dampak Perilaku Bullying Terhadap Kesehatan Mental Anak (Studi Kasus di MI Ma’arif Cekok Babadan Ponorogo).

http://etheses.iainponorogo.ac.id/8256/1/BAB%20I-BAB%20VI.pdf

Ningrum, N. P. (2017). Dampak Revitalisasi Jalur Ganda PT. Kereta Api Indonesia Terhadap Sosial Ekonomi Keluarga Pinggiran Rel di Kelurahan Glugur Darat II Kecamatan Medan Timur.

Pasaribu, S. (2016). Hubungan Konsep Diri Dan Dukungan Sosial Teman Sebaya Dengan Interaksi Sosial Mahasiswa. Jurnal Magister UMA: Vol. 8 No 1 http://www.ojs.uma.ac.id/index.php/analitika/article/view/863

Putri, W. (2009). Tingkat Perilaku Bullying Para Siswa Kelas XI SMA BOPKRI 2 Yogyakarta Tahun Ajaran 2008/2009 dan Sumbangan Bimbingan dan

Konseling dalam menanggapi perilaku bullying di sekolah

https://repository.usd.ac.id/19837/2/031114003_Full.pdf

Rangkuti, W. S. (2016). Pengaruh Hubungan Pertemanan Hubungan Pertemanan terhadap perilaku bullying di kalangan siswa (Studi Kasus Pada Beberapa SMA di Kota Medan). http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/64005

Habibie, N. A. (2019). Prevalensi dan Korelasi Bullying Diantara Remaja Di Indonesia : Analisis Data Sekunder Survei Kesehatan Berbasis Sekolah.

http://repository.unair.ac.id/83993/4/FKP.N.%2036-19%20Hab%20p.pdf

Sebayang, K. H. (2015). Pengetahuan Orang Tua tentang Bullying pada Anak di Kelurahan Bangun Mulia Kecamatan Medan Amplas.

http://repository.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/50324/Chapter%20II.pdf?sequence=4&isAllowed=y

Sebayang, U .E . (2007). Perbedaan Keterampilan Sosial Antara Siswa 

Homeschoooling Dan Siswa Yang Mengikuti Program Reguler. http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/23250

Septiani,S.C. (2015) Gambaran Stres Akulturasi Mahasiswa Papua yang   

Menjalani Perkuliahan diUniversitas Sumatera Utara

http://repositori.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/17984/121101063.pdf?sequence=1&isAllowed=y

Tantirah, E. (2019) Pola Solidaritas Sosial Mahasiswa Migran Asal Papua dengan di Universitas Sumatera Utara. 

http://repositori.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/32962/150901033.p df?sequence=1&isAllowed=y

Umasugi, S C. (2013). Hubungan Antara Regulasi Emosi dan Religiusitas Dengan Kecenderungan Perilaku Bullying Pada Remaja. EMPATHY Jurnal Fakultas Psikologi.Vol 2 No 1

Ulfa, Fatina Facrina (2012) Hubungan Antara Kecanduan MMORPG Dengan Keterampilan Sosial Pada Remaja Awal. 

        http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/26319

Wijaya, C & Affan H. (2019,Agustus 23) Mahasiswa Papua bicara soal rasialisme: 'Ih kalian bau' dan tudingan tukang minum. 

          https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-49430257

Zakiyah, E .Z., Humaedi ,S., & Santoso, M. B. (2017). Faktor Yang Mempengaruhi Remaja Dalam Melakukan Bullying. Jurnal Penelitian & PPM. Vol 4 No 2. http://jurnal.unpad.ac.id/prosiding/article/view/14352/6931

Sumber lainnya

Dian Utami Sutiksno et al 2018 J. Phys.: Conf. Ser. 1028 012244

Gio, P. U., & Caraka, R. E. (2018, June 28). PEDOMAN DASAR MENGOLAH  

DATA DENGAN PROGRAM APLIKASI STATISTIKA STATCAL. https://doi.org/10.31227/osf.io/796th

Gio, P.U., Elly Rosmaini, 2015, Belajar Olah Data dengan SPSS, MINITAB, R, 

MICROSOFT EXCEL, EVIEWS, LISREL, AMOS, dan SMARTPLS, USU Press.

Gio, P. U., & Caraka, R. E., 2021, Visualisasi Data dengan EAVIS, USUpress.

Gio, P. U., & Caraka, R. E., 2018, Pedoman Dasar Mengolah Data dengan 

Program Aplikasi STATCAL, USUpress.

Gio, P. U., & Caraka, R. E., 2021, Regresi logistik biner dengan STATCAL 

Disertai Perbandingan Hasil dengan SPSS, Stata, EViews & JASP, USUpress.

Editor : Khairul.

Previous
« Prev Post

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *