HEADLINE NEWS

Kategori

Hakim Tunda Putusan Sela Perkara Dugaan Akta Palsu Bernilai Ratusan Milyar

Pembacaan penundaan putusan sela oleh Domingus Silaban selaku Ketua Majelis Hakim dalam ruang sidang Cakra 6 PN Medan.


MEDAN  |  kabar24jam.com 

Selasa, 07/09/2021.

   Sidang perkara menempatkan keterangan Palsu dan pergunakan akta palsu dengan terdakwa David Putranegoro Als Lim Kwek Liong dengan agenda pembacaan putusan sela oleh Ketua Majelis Hakim Domingus Silaban batal dibacakan meski persidangan telah dibuka.

   "Seharusnya pada hari ini pembacaan amar putusan sela, namun belum bisa dibacakan karena putusannya belum siap," ucap Domingus sembari menunda persidangan pada Kamis (09/09/21) mendatang.

  Penundaan itu dibacakan dalam persidangan yang berlangsung diruang sidang  Cakra 6 Pengadilan Negeri Medan, Selasa (07/09/21), pukul 17.00 Wib.

   Terdakwa yang didampingi Penasehat Hukum( PH ) nya terlihat santai duduk dikursi pesakitan karena tidak dilakukan penahanan di Rutan. Sebab telah dialihkan oleh JPU Candra Priono Naibaho statusnya jadi tahanan rumah.

   Sidang sebelumnya, Jaksa Penuntut Umum, Chandra Priono Naibaho, menyebutkan bahwa terdakwa David Putranegoro Als Lim Kwek Liong bersama Lim Soen Liong Als Edy dan Notaris Fujiyanto Ngariawan (dilakukan penuntutan secara terpisah) mengubah keterangan dalam ahli waris Jong Tjin Boen.

   Dalam hal ini Jong Nam Liong (saksi korban) tidak terima dengan perbuatan terdakwa dan saudaranya Lim Soen Liong alias Edy dan Notaris Fujiyanto untuk menguasai seluruh harta benda.

  Dalam dajwaan penuntut umum, Jong Tjin Boen memiliki dua istri yakni Lim Lian Kau dan Choe Jie Jeng.

  Dari pernikahan Jong Tjin Boen dengan Lim Soen Liong dianugerahi 9 orang anak yakni Fendi Susanto, Suriati Als Lim Giok Eng, Yong Gwek Jan, Syamsudin (Alm), Jong Nam Liong (saksi korban), Mimiyanti dan Lim Kok Liong Als David Putranegoro (terdakwa), Lim Soen Liong Als Edy Als Edy (berkas terpisah) dan Ramli (Alm). Sedangkan pernikahan dengan Choe Jie Jeng dianugerahi tiga anak yakni, Juliana, Denny dan Winnie.

   Korban Jong Nam tidak terima dengan perbuatan kedua saudaranya yang membuat akta notaris Perjanjian Kesepakatan Nomor : 8 tanggal 21 Juli 2008 telah dibuat pada Bulan Juni 2008 atau semasa hidup orangtuanya serta seolah-olah disetujui oleh para ahli waris. Padahal mereka tidak ada menghadiri pertemuan yang dibuat keduanya dihadapan notaris.

   Dengan akta tersebut mereka kemudian menjualnya tanpa sepengetahuan ahli waris. Padahal bila melihat tanggal dari perjanjian akta notaris tersebut Joen Tjin Boen telah berada di Singapura untuk pengobatan di Rumah Sakit Mount Elisabeth semenjak 30 Juni 2008 sampai tanggal 05 September 2008, dimana Joen meninggal pada masa perawatan medis.

   Sepeninggal Joen, keduanya mulai mengambil harta dengan meminta kunci brankas yang berada dirumah jalan Juanda III Medan.

   Adapun aset yang dikuasai adalah sertifikat hak milik dan sertifikat hak guna bangunan serta harta bergerak maupun harta tidak bergerak milik Alm Jong Tjin Boen. Lalu terdakwa dan Lim Soen Liong Als Edy mengambil alih kekuasan untuk membagi deviden usaha Vigour kepada seluruh ahli waris Alm. Jong Tjin Boen dan menjual harta peninggalan Alm. Jong Tjing Boen secara sepihak tanpa adanya persetujuan atau ijin dari saksi korban maupun ahli waris Alm. Jong Tjin Boen lainnya.

   Berdasarkan akta notaris diduga dipalsukan kedua terdakwa, pembagian harta yang mencapai ratusan milyar tersebut dikendalikan mereka.

   Dalam perkara ini terdakwa dikenakan pasal berlapis yakni Pasal 266 ayat (1)Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHPidana atau Pasal 266 ayat (2) Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHPidana atau Pasal 266 ayat (2) Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHPidana atau 263ayat (1) Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHPidana atau Pasal 263 ayat (2) Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHPidana atau Pasal 362 ayat (1)Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHPidana atau Pasal 372Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHPidana. (A_06)

Previous
« Prev Post

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *