HEADLINE NEWS

Kategori

Warga Eka Rasmi Johor Tipu Ketua Arisan Rp, 660 Juta, Ngaku Terlilit Hutang

Saksi korban Fauziana

MEDAN  |  kabar24jam.com 

Kamis, 08/07/2021.

   Sidang lanjutan perkara dugaan Penipuan dan Penggelapan terhadap saksi korban Fauziana ( ketua Arisan keluarga) senilai Rp, 660 juta dengan terdakwa ALIFAH UTAMI, S.Hut, kembali digelar diruang sidang Cakra4 Pengadilan Negeri (PN ) Medan, Kamis ( 8/7/2021).oleh majelis hakim yang diketuai Milan Munthe.

Terdakwa Alifah Utami

   Pada persidangan tersebut Jaksa Penuntut Umum ( JPU) Rambo Loly Sinurat dari Kejari Medan menghadirkan 3 saksi kedepan persidangan diantaranya saksi korban Fauziana. Sedangkan terdakwa Alifah Utami dihadirkan JPU secara Vidio call didampingi Tim Penasehat Hukumnya ( PH ). 

 Majelis Hakim  

   Saksi korban Fauziana dibawah sumpah memberikan keterangan, pada hari Selasa tanggal 30Juni 2020 bertempat di Jalan Brigjen Katamso No 451 Kel Sei  Mati Kec Medan Maimun Kota Medan Terdakwa Alifah Utami S.Hut datang kerumah saksi korban.

   Dimana saat itu korban Fauziana sebagai pemegang uang arisan keluarga yang mana terdakwa Alifah Utami S.Hut ikut di dalam arisan tersebut. Kemudian tiba-tiba Terdakwa Alifah Utami menangis-nangis sambil mengatakan bahwa dirinya sangat membutuhkan uang untuk membayar rentenir, kalau tidak bayar Alifah Utami akan dibunuh.

   Terdakwa Alifah Utami meminta tolong supaya Terdakwa mendapat giliran yang didahulukan yang mana pada saat itu bukan gilirannya. Melihat terdakwa yang terus memelas dan menangis, korbanpun hiba melihatnya lalu mendahulukan mendapatkan arisan sebesar Rp. 21.000.000,- (Dua Puluh Satu Juta Rupiah).

   Untuk meyakinkan korban, terdakwa menceritakan memiliki tanah berikut rumah yang berada di Lhokseumawe akan dijualnya. Lebih untuk meyakinkan korban Fauziana, terdakwa menghubungi seseorang mengaku sebagai pembeli. Kemudian diminta untuk berbicara bahwa orang tersebut mau mbeli tanah berikut rumah terdakwa Alifah Utami. 

   Terdakwa berjanji akan mengembalikan paling lambat pada tanggal 08 November 2019, setelah tanah miliknya yang berlokasi di Lhokseumawe itu telah laku terjual atau mendapat giliran arisan.

   Selanjutnya Terdakwa kembali terus-menerus memohon dan meminta kepada saksi Fauzia untuk diberi pinjaman berikutnya dengan alasan hutangnya banyak, uang yang dipinjam sebelumnya tidak cukupbayarkan jutang- hutangnya. Lalu saksi korban memberikan uang arisan berikutnya hingga mencapai sebesar Rp. 122.500.000 (seratus dua puluh dua juta lima ratus ribu rupiah).

   Karena nilai uang dipinjam besar nilainya sehingga pada tanggal 22 September 2019 keduanya sepakat untuk dibuatkan kwitansi sebesar Rp. 122.500.000 (seratus dua puluh dua juta lima ratus ribu rupiah).

    Namun setelah dibuatkan kwitansi terdakwa Alifah Utami kembali melancarkan aksinya dengan menangis-nangis kepada saksi Fauziana agar diberi pinjaman lagi guna menebus mobil suaminya yang telah digadai tanpa sepengetahuan suaminya. 

   Kemudian pada tanggal 18 Oktober 2020 Terdakwa kembali dengan memelas dan menangis meminjam uang sebesar Rp. 52.000.000 (lima puluh dua juta rupiah) dengan alasan untuk membayar uang arisan yang telah terdakwa. Lalu pada tanggal 05 November 2019 Terdakwa kembali minjam kepada saksi korban sebesar Rp. 13.500.000 (tiga belas juta lima ratus rupiah) dengan alasan untuk menimbun tambak miliknya yang berlokasi di Lhokseumawae.

   Terdakwa Alifah Utami untuk kesekian kalinya datang kepada korban dengan berbagai alasan agar diberikan pinjaman berikutnya sebesar Rp. 425.000.000 (empat ratus dua puluh lima juta rupiah) sehingga total uang saksi Fauziana yang dipakai oleh terdakwa Alifah Utami  mencapai Rp. 660.000.000,- (enam ratus enam puluh juta rupiah). 

   Saksi korban juga menjelaskan didepan persidangan  yang mana pada saat setiap akan memjam uang Fauziana, terdakwa Alifah Utami selalu berjanji akan memberikan fee.

   Terdakwa Alifah Utami mengatakan kepada saksi korban bahwa tanah beserta rumah sudah dalam proses penjualan dan berjanji akan membayar setelah mendapat pembayaran atas penjualan tersebut dan berjanji pada tanggal 30 Mei 2020 akan mengembalikannya.

   Atas perkataan serta bujuk rayu terdakwa membuat saksi korban percaya, namun pada kenyataannya sampai dengan tanggal yang dijanjikan terdakwa tidak dapat mengembalikan uang saksi korban. 

   Lalu pada tanggal 04 Juni 2020 saksi korban menagih kembali janji dari Terdakwa untuk mengembalikan uangnya, namun tidak juga mendapatkan kepastian. Sehingga saksi Fauziana mengajak terdakwa Alifah Utami ke Notaris Syamsulrizul Akbar Bispo, SH.

   Dikantor notaris tersebut saksi korban meminta terdakwa membuat surat pernyataan terdakwa bersedia mengembalikan uang saksi korban selambat-lambatnya tanggal 30 Juni 2020. Itupun tidak juga dipenuhi terdakwa, akhirnya saksi korban melaporkan kejadian yang dialaminya ke Polrestabes Medan.

   Sementara kedua saksi lainnya mengatakan, mereka juga tahu peristiwa itu. Selain anggota arisan keluarga, kedua saksi memiliki hubungan keluarga. Usai mendengarkan keterangan ketiga saksi, majelis hakim meninda sidang hingga Kamis depan. ( A-06 )

Previous
« Prev Post

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *