HEADLINE NEWS

Kategori

Terungkap Dalam Tuntutan JPU, Octo dan Albert Pinjam Uang ke Joni Halim Diberikan Kepada Dadang Sudirman dan Dia

Suasana pembacaan tuntutan


MEDAN  |  kabar24jam.com 

Senin, 14/06/2021.

   Ada Fakta mencuat dalam isi nota Tuntutan JPU Candra Priono Naibaho, tak terbantahkan kalau Octo dan Albert yang meminjam uang senilai Rp, 4 Miliyar dari Joni Halim. Kemudian terungkap uang tersebut diberikan kepada Diah Respati ( Petty) serta Dadang Sudirman. Sementara Terdakwa Anwar Tanuudi diketahui dimintai tolong oleh Diah untuk membantu mecairkan uang untuk membayarkan hutang kepada Octo dan Albert.

  Selanjutnya menurut  isi tuntutan JPU Candra Diah Respati ( pety) menyerahkan SHGB PT. Cikarang Indah kepada terdakwa sebagai agunan ke bank. Sebab kata Diah kepada Octo dan Albert, bos besar memiliki plapon besar di bank. Jadi bisa membantu pencairan. Namun setelah di cek SHGB bukan milik Diah ataupun Dadang Sudirman, terdakwa mengbalikan SHGB pada pemilik yang sah Budiman Suriato.

  Sehingga menurut JPU Candra Priono Naibaho dari Kejari Medan tersebut, akibat dikembalikannya SHGB PT. Cikarang Indah kepada pemilik yang sah oleh terdakwa, Joni Halim dirugiian. Hal itu terjadi dalam  persidangan lanjutan perkara dugaan penipuan dan penggelapan senilai Rp4 Milyar dengan terdakwa Anwar Tanuhadi.

  Anwar Tanuhadi yang dihadirkan secara Virtual di ruang Cakra 4 Pengadilan Negeri Medan, Senin (14/06/21), mendengarkan pembacaan tuntutan oleh JPU Candra Priono Naibaho. Anwar dituntut 3 tahun 8 bulan penjara.

"  Sidang Sebelumnya "

   Sebelumnya pada persidangan yang lalu dijelaskan bahwa pada perkara ini terdakwa di zolimi secara hukum. Sebab ia sama sekali tidak pernah kenal apalagi berhubungan dengan korban Joni Halim.

   Dikatakan Anwar dalam keterangannya, " Saya ditangkap di Bandung, kemudian secara paksa katanya mau dibawa ke Polsek Blok A. Ternyata saya ditipu dan dibawa ke Polres Jakarta Pusat dengan tangan diborgol. Lalu di jebloskan ke penjara, " terang Terdakwa. 

   " Besok harinya saya dibawa  ke Medan menggunakan Batik Air. Sesampainya saya di Medan langsung dibawa ke Polsek Medan Timur. Di Polsek Medan Timur, saya bertemu seseorang mengaku Pengacaranya Joni Halim yang sudah berada diruangan juru periksa. Selama tiga hari di Polsek Medan Timur, saya mendapat tekanan secara fisik dan phisikis, " ungkap Anwar di hadapan majelis hakim.

   " Pihak yang mengaku pengacara Joni Halim tersebut juga ikut mengintimidasi serta ada tekanan dari oknum polisi yang ada disana agar saya membayar hutang Rp, 5.000.000.000. ( Lima Miliyar rupiah). Karena saya memiliki riwayat penyakit jantung koroner dan tak tahan dengan perlakuan mereka, sayapun menghubungi keluarga. Saya minta mentransferkan uang Rp2,5 milyar ke rekening orang yang bernama Rudi sesuai arahan pengacara Joni Halim, " Jelas terdakwa Anwar.

  " Kemudian 2,5 Miliyar lagi dilakukan pembayaran selanjut memakai cek sebanyak tiga lembar. Kemudian pihak kepolisian mengeluarkan surat pelepasan saya, dinyatakan tak bersalah. Ketika diberikan kepada saya, lalu sempat di foto. Namun hal itu membuat petugas yang ada di Polsek Medan Timur marah, kok foto-foto d Ngan suara keras, " ucap terdakwa Anwar secara Daring. Karena belum membayar lunas sehingga surat yang menyatakan dirinya tak bersalah ditarik kembali dan  menggantikan dengan surat penangguhan.

   Menurut keterangan terdakwa Anwar, di Jakarta, terdakwa langsung berkonsultasi dengan pengacara yang saat ini mendampinginya dalam persidangan. Setelah berkonsultasi maka tiga cek tersebut dibatalkan dan atas penangkapan dirinya, Anwar melaporkan pihak penyidik Polsek Medan Timur ke Propam Polda Sumut.

   Dasar pengaduan penangkapan tersebut tentang prosedur penangkapan hingga intimidasi membayar hutang senilai Rp, 5 miliyar. Karena terdakwa tidak pernah berhubungan sama sekali dengan Joni Halim, Octo dan Albert. 

  Sementa keterangan Antoni selaku Adecharge menjelaskan, "Saya adalah Kuasa dari bapak Budiman Suriato untuk mengurus permasalahan Budiman Suriato. Pak Budiman Suriato sebagai Direktur PT Cikarang Utama, memang ada memiliki pinjaman uang kepada Pihak lain, " jelas Antoni didepan persidangan.

  Ketika ditanyakan Tim Advokat terdakwa, kepada Antoni siapa pihak ketiga tersebut?.. Pihak ketiga itu dirnya sudah lupa, tapi yang jelas bukan pada Octoduti Rumahorbo dan Albert serta Dadang Sudirman, " Tegas Antoni dihadapan Majelis hakim.

   Terkait dengan hutang / pinjaman Budiman Suriato kepada Pihak Ketiga sebagaimana Saudara sebutkan diatas, apakah Saudara tahu bahwa Budiman Suriato telah meminta tolong kepada orang yang Bernama Diah Respati (Petty) untuk mencarikan jalan keluarnya atau mencarikan pinjaman kepada Pihak lain untuk membayar hutangnya dengan menjadikan Sertifikat Asset PT Cikarang Indah sebagai jaminan, " Tanya Henry Yosodiningrat kepada saksi Antoni.

   "Saya tahu, akhirnya dibantu oleh Diah Respati, Sekitar akhir tahun 2018 atau awal tahun 2019, " jawab Antoni. 

   Lanjut Antoni, "Kemudian Pak Budiman meminta saksi dan Charles mengantarkan sertifikat kepada Diah kekantor notaris. Sesampai dinotaris Antoni melihat ada Octo dan Albert selain Diah disana. Lalu Octo dan Albert meminta saksi untuk diserahkan kepada notaris untuk dilakukan pengecekan Sertifikat, Tandas saksi Adecharge itu.

   Diterangkan Antoni, " Selanjutnya ya pak Budiman Suriato menunggu pembayaran. Setelah ditagih- tagih beberapa kali belum juga diberi pinjaman tersebut oleh Diah Respati, Octoduti Rumahorbo dan Albert. Kami meminta pertanggung jawaban Diah Respati, dan selanjutnya kami dipertemukan kepada Dadang Sudirman.

   Atas arahan dari Diah Respati, agar dibuat PPJB atas objek tanah dengan Sertifikat HGB 2043 an PT Cikarang Indah antara Budiman Suriato dengan Dadang Sudirman. Setelah diterbitkan PPJB juga tidak ada pembayaran. Belakangan tahu bahwa Octo dan Albert ada membayar kepada Dadang Sudirman dari Diah Respati.

   Selanjutnya di tanyakan kembali oleh Henry Yosodiningrat kepada Antoni, " sekarang coba Saudara ceritakan apa dan sejak kapan keterlibatan Terdakwa berkaitan dengan Sertifikat HGB 2043 atas tanah milik PT Cikarang Indah.

   Antoni menerangkan, " tentang Sertifikat HGB 2043 an. PT Cikarang Indah Pada waktu itu saya meminta kembali jaminan aset PT Cikarang Indah, karena sudah lama tidak ada realisasi pencairan, tapi saat itu sertifikat PT Cikarang Indah sudah dipegang oleh Notaris Bank. Setelah beberapa lama juga tidak ada pencairan akhirnya saya menuntut untuk diambil kembali sertifikatnya. Baru saya dikenalkan oleh Diah (Petty) kepada Terdakwa Anwar Tanuhadi, " jelas Antoni.

   Kemudian setelah beberapa waktu lama juga belum ada pencairan, saya bertemu kembali dengan Diah (Petty), Octo, Albert dan Terdakwa. Pertemuan selanjutnya ada beberapa kali saya tidak ikut.

   Menurut Antoni, "Bahwa pihak Joni Halim, Octo dan Albert sebenar di perdaya oleh Diah Respatih, Dadang Sudirman dan Budianto. Sebab sekaitan uang Rp4 Milyar yang diberikan Joni Halim kepada Dadang dan Budiyanto melalui Okto serta Albert tidak ada spasi kepada Pak Budiman Suriato. ( A-06 )

Previous
« Prev Post

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *