HEADLINE NEWS

Kategori

Terkait Tipikor Jual Beli Jabatan Kemenag, Rp750 Juta, Yohana Akui Berikan Kepada Nur Kholidah

Majelis hakim sedang memeriksa keterangan saksi Yohana.

MEDAN  |  kabar24jam.com 

Senin, 07/06/2021.

   Nama Nurkholidah Lubis ( Kepsek MAN3) kembali disebut dalam persidangan perkara korupsi jual beli jabatan di Kanwil Kemenag Sumut, dengan terdakwa mantan Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Sumatera Utara, H. Iwan Zulhami dan Zainal Arifin Nasution selaku Mantan Kasi Pendidikan Agama Islam Kantor Kemenag Madina. Kembali digelar diruang sidang Cakra2 PN Medan, Senin (07/06/2021).

   Sidang kali ini masih secara Virtual dan beragendakan pemeriksaan keterangan saksi yang dihadirkan JPU Polim Siregar dari kejati Sumut. Saksi pertama yakni, Yohana diketahui selaku Kepala Sekolah dan juga Istri salah satu terdakwa.

   Terlihat Yohana duduk dikursi persidangan yang dipimpin Majelis Hakim, Bambang Joko Winarno dan Penuntut Umum Kejatisu Polim Siregar, sempat gugup dan gemetaran.

   Majelis Hakim yang melihat prilaku saksi Yohana langsung menegur, "Anda ini Kepala Sekolah kok gemetaran, katakan saja yang sejujur - jujurnya. Apalagi suami anda sudah menjadi terdakwa dalam perkara ini.

   Setelah ditegur hakim, Yohana pun mulai menceritakan yang dialaminya, didengarnya dilihatnya sendiri. Menurut Yohana kenapa suaminya memberikan uang kepada Nurkholidah selaku Kepala Sekolah MAN 3 Medan tersebut.

   Sekitar tanggal 13 Mei 2019, suaminya dihubungi oleh Nurkholidah, tentang posisi jabatan Kepala Kantor Kemenag Madina.

   "Waktu itu suaminya ditelephon oleh Nurkholidah agar menyiapkan segala sesuatu untuk keperluan selama proses pengangkatan. Tak hanya itu saja suaminya juga disuruh untuk datang Ke Medan," ujarnya sembari menyebutkan ia diajak oleh Zainal ke Medan.

  Sesampai di Medan saksi Yohana dan suaminya langsung ke rumah Nurkholidah, namun tak jumpa karena masih mengajar. Dan kemudian mereka kembali datang sekitar pukul 15.00 Wib, lalu sekira pukul 16.00 Wib mereka bersama-sama berangkat ke rumah Kakanwil Kemenag Sumut, Iwan Zulham di Binjai.

   Sesampainya dirumah Pak Iwan, bukan suaminya saja rupanya yang tahu. Akan tetapi ada juga Salbiah. Mendengar itu, Siapa Salbiah ini? kok tidak ada dalam BAP, Yohana menyebutkan Kepala Sekolah MAN di Madina, Pak Hakim.

   Namun untuk urusan apa, Salbiah bertemu dengan Pak Iwan, Yohana tidak mengetahui, namun kami sama-sama datang ke rumah Pak Iwan.

   Setelah perbincangan dengan Pak Iwan, kemudian Nurkholidah mengisyaratkan dengan 7 jari yang berarti Rp700 juta. 

   "Jadi setelah itu kelanjutan bagaimana?," tanya Ketua majelis hakim.

   Dikatakan Yohana pada waktu itu, memberikan uang Rp250 juta secara tunai kepada Nurkholidah, selebihnya melalui transfer ke rekening milik suaminya Nurkholidah.

   Bahkan ia sempat meminjam uang ke Bank Syariah sebanyak Rp450 juga untuk keperluan kepengurusan jabatan Kakan Menag Madina tersebut. Tak hanya itu selain uang Rp700 juta ia juga memberikan tambahan uang Rp50 juta kepada Nurkholidah sehingga totalnya Rp750 juta.

   Selanjutnya, setelah uang yang diberikan ternyata suaminya sempat ditunjuk untuk menjabat posisi Plt Kakan Menag Madina selama satu tahun.

   Namun karena tak sesuai dengan apa yang dijanjikan Nurkholidah, Suaminya (Zainal, red) menanyakan kepada Nurkholidah, apakah uang yang diberikan kepada Iwan telah sampai?, karena Zainal belum diangkat menjadi Kakan Menag Kabupaten Madina.

   Ketika ditanyakan masalah jabatan kepada Nur Kholidah, coba langsung saja kepada Pak Iwan, itu penyampaian Nurkholidah kepada suaminya, terang saksi Yohana pada hakim dan JPU.

   Sedangkan mengenai uang yang dikirim suaminya kepada Nur kholidah menyatakan uang  tersebut sudah ditransfernya kepada Iwan, itu disampaikan Nur kholidah melalui pesan whatsapp pada saksi. Akan tetapi pada saat ditanyakan mana bukti transferan yang dimaksud. Nur Kholidah tidak dapat menunjukannya, jelas saksi Yohana pada majelis hakim.

   Bahkan ketika ditanya Penasehat Hukum terdakwa Iwan Zulhami yakni, Edi Purwanto, apakah saksi bersama suami yakni Zainal apakah pernah secara langsung memberikan uang tunai atau transfer kepada Iwan Zulhami, saksi mengatakan tidak pernah, karena mereka hanya berurusan dengan Nur Kholidah.

   Sementara itu Wan Isvan anak dari terdakwa Iwan dalam kesaksiannya membenarkan ada menerima transfer sebesar Rp200 juta dari Koko merupakan sepupunya sekaligus ajudan dari orang tuanya.

   Namun saat ditanyakan asal usul uang, saksi mengatakan tidak mengetahuinya, hanya menyebut uang tersebut untuk keperluan kuliahnya di Kyoto, Jepang.

  Setelah mendengarkan keterangan para saksi maka persidangan dilanjutkan pada pekan depan.

   Seusai persidangan, Edy Purwanto menyatakan bahwa memang benar bahwa Koko menerima uang dari Nur kholidah pada Mei 2019, Sedangkan pemberian uang kepada Wan Isvan oleh Koko pada April 2020, saat itu Iwan Zulhami sudah tidak lagi menjabat sebagai Kakanwil Kemenag Sumut sehingga tidak ada hubungannya dengan perkara yang bergulir pada saat ini. ( A-06 )

Previous
« Prev Post

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *