HEADLINE NEWS

Kategori

Perintahkan Aan, Terkait Pembunuh Asiong, Ko Ahwat Dituntut Hanya 3 Tahun Penjara



MEDAN  |  kabar24jam.com 

Rabu, 23/06/2021.

   Sidang perkara dugaan pembunuhan sadis terhadap Jefri Wijaya alias Asiong (28) yang mayat dibuang ke jurang di kawasan Berastagi, Kabupaten Karo dalam keadaan mata, mulut, tangan, kaki diikat dalam kondisi bugil serta tubuhnya penuh dengan luka bekas penganiayaan, beragendakan pembacaan tuntutan pidana oleh Jaksa Penuntut (JPU) dari Kejati Sumut, Nelson yang dibacakan Randi Tambunan didepan majelis hakim yang diketuai Jarihat Simarmata.

   Pada persidangan tersebut tak terlihat kehadiran terdakwa Edy Suwanto Sukandi alias Ko Ahwat Tango (48) diruang sidang Kartika. Ternyata terdakwa Ko Ahwat dihadirkan JPU secara Telekomprens. Sementara Ko Ahwat statusnya tidak ditahan baik oleh JPU maupun majelis hakim. Sebab status tahanan terdakwa telah dialihkan menjadi tahanan kota. Meski tidak ditahan terdakwa Ko Ahwat tidak mampu dihadirkan JPU ke ruang persidangan.  

   Pantauan awak media diruang sidang Kartika Rabu (23/06/2021) yang di ketuai Jarihat Simarmata  dihadiri Jaksa Penuntut Umum (JPU ) Randi Tambunan, juga menghadirkan 8 orang terdakwa lainnya yakni Andi alias Aan, Muhammad Dandi Syahputra alias Dandi, dan Bagus Ariyanto, selamet Nurdin Syahputra alias Tutak, Andi Sahputra alias Andi, Hoki Setiawan alias Kecot, Aqbar Agustiawan alias Ojong, dan Guruh Arif Amada secara telekomprens. 8 terdakwa terlebih dahulu telah dituntut pidana oleh penuntut umum dengan hukuman bervariasi.

  Dalam nota tuntutanya JPU Nelson menuntut terdakwa Ko Ahwat dengan tuntutan pidana selama 3 tahun penjara.

# Ko Ahwat Pemberi Perintah Pencarian Korban Jefri.

   Andi Alias Aan yang mendapat perintah pencarian korban atas perintah terdakwa Edy Suwanto Sukandi alias Ko Ahwat Tango dan mengumpulkan teman- temannya untuk membantu pencarian hingga sampai melakukan pembantaian di gubuk pasar 9 dan di Rumah kontraan pasar 3 hingga mayat korban dibuang ke jurang di kawasan Berastagi, Kabupaten Karo dalam keadaan bugil dan tubuhnya penuh luka bekas penganiayaan, plus disiram air jeruk lemon dituntut selama 7 tahun penjara.

   Sedangkan untuk ke 7 terdakwa lainnya yakni, Selamet Nurdin Syahputra Alias Tutak, dituntut 2 tahun penjara,Andi Sahputra alias Andi 4 tahun penjara, Muhammad Dandi 6 tahun, Hoki Setiawan alias Kecot, 4 tahun, Bagus 6 tahun, dan Aqbar Agustiawan alias Ojong, 2 tahun serta Guruh Arif Amada 1 tahun penjara.

   JPU juga meminta Majelis Hakim agar menghukum terdakwa Ko Ahwat Tango hanya 3 tahun Penjara sesuai pasal yang telah dibuktikan didalam tuntutan yang dibacakannya. Bahwa  terdakwa terbukti bersalah melanggar Pasal 333 (3) Jo 55 (1) Ke-1. KUHP.

   Usai pembacaan tuntutan dari JPU selanjutnya Majelis Hakim menunda sidang hingga Jumat dalam agenda Pledoi terdakwa.

   Sementara diluar persidangan JPU  dari Kejatisu saat di wawancarai terkait ketidak hadiran terdakwa Edy Suwanto Sukandi alias Ko Ahwat  warga Komplek Jati Mas Blok C, Kecamatan Medan Perjuangan yang diduga merupakan aktor intelektual  terjadinya perkara pembunuhan terhadap Jefri Wijaya alias Asiong. JPU hanya bisa terdiam, lalu menjawab tidak tau.

   JPU tak membantahnya, " Benar, seharus terdakwa  Sukandi alias Ko Ahwat di lakukan penuntutan sekaligus bersama dengan ke- 8 orang terdakwa ini pnacaan pledoi, tapi tanyakan aja langsung kepada JPU satunya," pungkas JPU Randi sembari menyebutkan nama JPU yang diantaranya adalah Nelson sambil berlalu meninggalkan wartawan dari Ruang sidang Kartila PN Medan.

koptu Suhelmi saat memberi keterangan didepan persidangan

///Saksi Koptu Suhelmi : Edy Suwanto Sukandi alias Ko Ahwat Tango ikut terlibat 

  Diketahui pada sidang sebelumnya saksi fakta Koptu Suhelmi belak-belakan mengatakan Edy Suwanto Sukandi alias Ko Ahwat Tango yang tidak dilakukan penahanan dengan alasan pengalihan penahanan karena sakit, dengan tegas saksi Suhelmi ikut terlibat dalam perkara pembunuhan Sadis, terhadap Jefri Wijaya alias Asiong.

   Hal itu dikatakan saksi Suhelmi kepada Jaksa Penuntut Umum (JPU), Anwar Ketaren dan Aisyah dihadapan Majelis Hakim yang di ketuai.Jarihat Simarmata serta Penasehat Hukum masing-masing terdakwa di Ruang Kartika Pengadilan Negeri (PN) Medan Jumat (7/5/2021) sore.

   Kepada Majelis Hakim Jarihat Simarmata dan JPU Anwar Ketaren bersama Aisyah.serta Penasehat Hukum masing-masing terdakwa, Suhelmi menuturkan sebelum peristiwa penganiayaan terjadi dirinya sempat bertemu dengan Edy dan Andi sekitar 7 atau 8 September 2020 di Cafe Nusantara.

   "Waktu itu, Edy meminta saya menemani Andi untuk mencari Jefri," ucap Suhelmi sembari mengatakan dalam ingatannya si Jefri punya hutang Rp766 jutaan.

   Berselang beberapa kali pertemuan dirinya (Suhelmi red) kembali dihubungi oleh Edy Suwanto Sukandi alias Ko Ahwat Tango agar datang ke pintu tol Bandar Selamat.

   "Nah pada waktu saya melihat didalam mobil ada seorang pria yang tak dikenalnya dengan kondisi memar ditubuh dan keadaan tangan terikat, mata dan mulut dilakban. Kemudian Koptu Suhemi masuk kedalam mobil itu. Lalu meneruskan perjalanan ke Pasar 9 Marelan untuk melakukan introgasi korban ,"sebut Koptu Suhelmi.

   Lanjut Koptu Suhelmi yang mana dalam perkara ini dirinya juga sedang menjalani hukumam setelah diputus bersalah oleh Mahmil.

   Sesampai di sebuah gubuk Pasar 9, Jefri di gotong masuk kedalam. Didalam gubuk terjadi penyiksaan terhadap korban Jefri. Karena korban teriak- teriak minta tolong hingga menimbulkan keributan. Akhirnya korban di gotong kembali menuju ke pasar 3 Marelan atas arahan Pratu Indra Lesmana. 

   Sebelumnya saksi Koptu Suhelmi menghubungi adik letingnya untuk mencari rumah kontrakan secara kebetulan ada rumah sewa milik Akbar (berkas terpisah).

   "Karena sudah positif ada rumah sewa maka pindahlah mereka kesana dimana Edy Suwanto Sukandi alias Ko Ahwat Tango tetap menunggu informasi di Cafe Nusantara, Jalan Panglima Denai Kecamatan Medan Amplas"ucap Suhelmi.

   Suhelmi menyatakan selama di dalam rumah yang dikontrak itu kondisi korban sudah tak berdaya. Ketika itu, Andi alias Aan menghubungi Edy tapi apa yang dibicarakan saksi tidak mengerti karena berbahasa Tionghoa atau Cina.

  Karena kondisi korban sudah lemas dan tak berdaya akibat disiksa terus menerus, maka Andi alias Aan bersama saksi Suhelmi serta orang yang ikut dalam rombongan dirumah sewa kembali ke Cafe Nusantara Jalan Panglima Denai.

   Sesampai di Cafe Nusantara Jalan Panglima Denai Edy Suwanto Sukandi alias Ko Ahwat Tango terlihat gelisah karena korban Jefri Wijaya alias Asiong sudah tidak bergerak lagi. Disitulah direncanakan pembuangan mayat Jefri Wijaya alias Asiong

   "Ada tiga tempat opsi pembuangan mayat Jefri Wijaya alias Asiong pertama dikawasan Tanjungorawa diperkeburanan Cina. Lalu opsi kedua di Singai Ular dan akhirnya diputuskan mayat Jefri Wijaya alias Asiong dibuang dikawasan jurang Brastagi Kabupaten Karo," Ungkap Koptu Suhelmi.

   Suhelmi mengaku ketika mayat Jefri Wijaya alias Asiong dibuang dikawasan jurang Brastagi Kabupaten Karo ia ikut dalam rombongan itu, di lokasi tersebut ketika mobil berhenti ditepi jurang Suhelmi berperan berpura- pura mengatur lalu lintas agar tidak terjadi kemacatan. ( A-06 )

Previous
« Prev Post

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *