HEADLINE NEWS

Kategori

Komisaris Utama PT. Guna Karya Nusantara : " Saya pastikan Blokir tidak terbuka dengan Rp, 657 Juta"

Saksi jujuk memperlihatkan bukti surat yang di bawaknya


MEDAN  |  kabar24jam.com 

Rabu, 19/05/2021.

   Dalam Sidang lanjutan perkara dugaan penipuan dan penggelapan dengan terdakwa Ir. Muhamad Taufik Hamadi selaku Direktur IV PT. Guna Karya Nusantara (GKN), terungkap bahwa uang senilai Rp, 657 juta dipastikan oleh Komisaris Utama tidak akan akan bisa membuka blokir rekening perusahaan. Alasan saksi pada keterangannya, sebab hutang pajak perusahaan terakhir diketahuinya mencapai 16 Miliyar dari proyek - proyek yang dikerjakan dibeberapa tempat di indonesia bernilai Rp, 1,3 Triliun. Hal itu diterangkan saksi Komisaris Utama PT. Guna Karya Nusantara didepan persidangan dihadapan majelis hakim yang diketuai Deni Lumbantobing dan Jaksa Penuntut Umum (JPU)  Candra Priono Naibaho serta Penasehat Hukum terdakwa Firdaus Tarigan diruang sidang cakra9 Pengadilan Negeri (PN) Medan, Rabu ( 19/05/2021).

   Selain itu Komut PT GKN tersebut juga menerangkan bahwa rekening pribadinya juga diblokir hingga sekarang.  dipimpin majelis hakim yang diketuai oleh Deni L .Tobing beragendakan pemeriksaan dua saksi yang dihadirkan Jaksa Penuntut Umum ( JPU) Candra Priono Naibaho dari Kejaksaan Negeri Medan, (19/05/2021).

   Sedangkan mengenai asal uang Rp, 657 juta yang menurut JPU Candra berasal dari saksi korban Bayu selaku Direktur7 di PT. Guna Karya Nusantara melalui saksi Suharman ( saksi sebelumnya - red) ditransfer kepada Setia Mulyani alias Jujuk merupakan adik kandung terdakwa, untuk pembukaan rekening perusahaan yang diblokir oleh Bank Sumut karena perusahaan terhutang pajak hingga mencapai 18 M. Apakah saksi selaku Komisaris Utama Perusahan mengetahuinya, tanya Candra.

   Menurut saksi, uang senilai Rp, 657 juta berasal dari talangan para direksi sebanyak 9 direksi diperusahaan tersebut, bukan milik Bayu ( direktur7-red). Lanjut saksi, tentang hutang pajak perusahaan seperti saksi ceritakan diawal sepengetahuannya Rp, 16 Miliyar.  Bahkan saksi selaku Komisaris Utama yang menyarankan untuk tanggung renteng menalangi pembayaran pajak perusahan.

   Selain itu juga dijelaskan saksi Komisaris Utama Perusahan tersebut, dirinya pernah menghadap Dirjen pajak bernegosiasi untuk pengurangan pajak nilai pajak terhutang agar rekening pribadinya juga perusahaan dibuka pembelokirannya . Namun Dirjen pajak tidak mau toleransi lagi terhadap hutang pajak PT. Guna Karya Nusantara. Makanya disebutkan saksi dipastikan dengan uang Rp, 657 juta mustahil bisa membuka blokiran. " Jangankan uang segitu, 1 miliyar sajapun kita bayarkan tidak akan terbuka blokiran rekening, "Tandas Komisaris Utama PT. Guna Karya Nusantara.

   Selanjutnya Candra menghadirkan Setia Mulyani alias Jujuk didepan persidangan untuk didengar keterangannya. JPU mengingatkan saksi Jujuk pernah diperiksa keterangannya oleh penyidik dituangkan dalam Berita Acara Pemeriksaan tertanggal 13 September 2020. 

   Jujuk menjawab benar pak jaksa. Terhadap keterangan saksi di BAP dari poin pertama sampai poin 20 dibenarkan dan ditandatangani, tanya Candra. Jujuk keberatan atas keterangan didalam poin 20. Menurut Jujuk setelah tanya jawab dan diketik, Jujuk tidak diberikan untuk dibaca ulang oleh penyidik dengan alasan waktu. Namun Jujuk diminta penyidik untuk ditandatangani.Bahkan motocopy ditempat fotocopy pak jaksa. Jadi keterangan saya cabut, terang Jujuk dihadapan majelis hakim.

   Sehubungan dengan tandatangan di BAP itu, hakim anggota Donal menanyakan saksi Jujuk, apa saksi diancam saat memberi keterangan, tidak pak hakim. Saya tidak dikasih baca ulang oleh penyidik, jelas Jujuk.. Jadi kenapa saksi mau cabut keteranganmu di poin20 dalam BAP. Keterangan saya yang sekarang ini pak hakim, tandas Jujuk. Kemudian hakim meminta JPU melanjutkan pertanyaannya.

   Kenapa saksi dihadirkan didepan persidang, apakah saksi tahu, tanya Candra. Sehubungan tuduhan terhadap Ir. Muhamad Taufik Hamadi selaku direktur4 menggelapkan uang. Uang siapa digelapkan terdakwa, Tandas Candra lagi. Tidak tahu pak jaksa, jelas Jujuk pada JPU.

   Ketika ditanya kembali tentang uang sebesar Rp, 657 juta apakah saksi tahu dan darimana asalnya, tanya Candra. Dikatakan Jujuk uang Rp, 657 juta tersebut untuk pembukaan blokir rekening perusahaan. Sedangkan asal uang itu ditransfer alm. Hasbilah dan Suharman kerekeningnya dan pemindahan buku dengan bank.

   Menurut saksi diperusahaan dirinya menjabat sebagai bagian keuangan. Jadi karena rekening perusahaan diblokir, Direktur Utama Wawan Darmawan menerbitkan surat keterangan untuk melakukan pembayaran hutang pajak perusahaan, bukan terdakwa M Taufik.

   Ditanya JPU berapa pajak dibayarkan untuk dibuka blokir, pajak dibayar 120 juta dan uang oprasional perusahaan. Sisanya masih tersimpan padanya, Terang Jujuk.

  Apakah setelah dibayar pajak tersebut blokir dibuka, tidak pak jaksa, jawab Jujuk. Setelah mendengarkan keterangan kedua saksi, majelis hakim menunda sidang untuk pemeriksaan saksi- saksi berikutnya pada Rabu depan.( A-06 )

Previous
« Prev Post

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *