HEADLINE NEWS

Kategori

Sidang Pembunuhan Asiong Dibuka Untuk Ditunda, JPU "Saksi Tak Bersedia Hadir Dipersidangan"

Suasana sidang terdakwa hadir didampingi tim penasehat hukum


MEDAN  |  kabar24jam.com 

Jumat, 23/04/2021.

   Sidang perkara dugaan pembunuhan sadis terhadap korban Jefri Wijaya alias Asiong (28) dengan terdakwa Edy Suswanto Sukandi alias Ko Ahwat Tango (48) dibuka kembali ditunda hanya untuk mendengarkan pernyataan JPU " saksi tidak bersedia hadir memberikan keterangan dipersidangan".

   Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara ini belum juga bisa menghadirkan saksi- saksi dipersidangan. Padahal jadwal persidangan sebelumnya sudah disepakati akan menghadirkan saksi Dani yang merupakan saksi BAP.

   Diketahui persidangan ini sudah sempat dilakukan penundaan selama 3 pekan, namun JPU tidak mampu menghadirkan saksi Dani kedepan persidangan. Selain itu sempat terkabar bahwa terdakwa terpapar Covid- 19. Sehingga sidangpun ditunda sampai 2 pekan. Anehnya ketika persidangan Jumat (23/04/2021) sore, terdakwa hadir kedepan persidangan didampingi Tim Penasehatnya dan menyatakan dirinya sehat dapat mengikuti persidangan.

   Namun ketika ditanyakan langsung kepada terdakwa Ko Akhwat oleh Majelis hakim yang diketuai Jarihat Simarmata," Saudarakan kena Covid, kenapa bisa hadir kepersidangan apa sudah sembuh," tanya hakim ketua itu. " Bukan saya yang kena Covid pak hakim, tetapi istri saya," jelas Ko Akhwat pada majelis hakim.

   Selanjutnya JPU Aisyah memberitahu majelis hakim, "Maaf majelis hakim, kami belum bisa menghadirkan saksi. Kami sudah mencoba mendatangi rumah saksi, namun saksi tidak berada di kediamannya. Kami juga ada menerima surat pernyataan dari saksi Dani bahwa dirinya (saksi-red) tidak bersedia memberikan keterangan di persidangan,"  ujar JPU Aisyah kepada majelis hakim diruang sidang Cakra 8 Pengadilan Negeri Medan.

   Menanggapi hal itu, majelis hakim Jarihat mengatakan bagaimana bisa saksi tidak bersedia memberikan keterangan. Coba sini saya lihat surat pernyataan saksi tersebut. 

    Menurut Jarihat saksi wajib hadir dipersidangan untuk memberikan keterangan," cetus hakim Jarihat. JPU Aisyah kembali memohon kepada majelis hakim agar diberi  waktu dan pada persidangan berikutnya akan mengajukan saksi mahkota terlebih dahulu, sembari menunggu saksi Dani dihadirkan," pinta JPU dari Kejati Sumut ini.

  Menyikapi hal itu, majelis hakim menunda persidangan pekan depan dengan agenda saksi mahkota sembari mengatakan saksi Dani wajib dihadirkan di Persidangan.

   Usai persidangan ketika JPU Aisyah dikonfirmasi terkait tidak hadirnya saksi dan surat pernyataan saksi tidak berkenan hadir di persidangan, JPU tersebut mempercepat langkahnya menghindari wartawan dan tak berkenan memberikan komentar.

   "Maaf ya, kalau mau konfirmasi langsung ke Kantor saja," ujarnya sembari lebih mempercepat langkahnya seperti berlari kecil meninggalkan gedung Pengadilan Negeri Medan.

   Terpisah, Kasi Penkum Kejati Sumut Sumanggar Siagian saat dikonfirmasi melalui via telepon mengatakan, " kalau saksi membuat surat pernyataan untuk tidak mau memberikan keterangan di persidangan itu sah-sah saja, itu hak dia, ungkap Kasipenkum Kejati Sumut itu. 

   "Tetapi, Jaksa harus tetap berupaya memanggil saksi ke persidangan untuk mempertanggung jawabkan BAP yang ada diberkas perkara pembunuhan tersebut. Jaksa harus menghadirkan saksi di persidangan, "Tandas mantan Kasi Pidum Binjai ini.

   Ketika ditanya terkait surat pernyataan saksi yang telah diterima oleh JPU, Sumanggar mengatakan mungkin saja surat itu diterima dari keluarga saksi, bisa dari pengacaranya. Berarti kan JPU belum ketemu sama yang bersangkutan.

   "Intinya, JPU harus tetap menghadirkan saksi untuk dimintai keterangannya di dalam Persidangan untuk mempertanggung jawabkan BAP dalam perkara kasus pembunuhan tersebut," ujar Kasi Penkum Kejatisu Sumanggar.

   Dakwaan JPU Anita dan Anwar Ketaren, menjelaskan kasus ini bermula pada 14 September 2020 lalu. Saat itu Edy Suwanto menghubungi Handi melalui telepon dan mengatakan bahwa Dani berutang judi online sebesar Rp 766 juta dan yang menjamin untuk membayar utang tersebut adalah korban yang berjanji akan membayar sebesar Rp200 juta.

  "Kemudian Edy Suwanto memerintahkan Handi agar datang ke Warkop Nusantara di Jalan Panglima Denai, Medan Amplas untuk membicarakan hal tersebut. Lalu Handi bersama Reza Santoso mencari Dani ke rumahnya di Jalan Kasuari, Medan Sunggal namun tidak ketemu," ujar JPU.

   Pada 16 September 2020 Edy Suwanto kembali menghubungi Handi untuk bertemu di Warkop Nusantara. Lalu di Warkop tersebut Edy Suwanto mengatakan kepada Handi, 

   "Kau cari si Jefri Wijaya alias Asiong (korban) bagaimanapun caranya. Dan jika sudah dapat kau kabari si Suhemi untuk tindakan selanjutnya. Apabila berhasil diberikan hadiah atau bonus". 

   "Lalu Perri bertanya kepada Handi mencari korban start dari mana dan dijawab Handi jika korban sering dugem di The Cube Hotel Danau Toba karena melihat story facebook milik Baron bekerja sebagai DJ (Disk Jockey) bahwa korban dan Baron sering bersama di The Cube," jelas JPU.

   Lebih lanjut dikatakan JPU, kemudian para terdakwa dengan menggunakan mobil berangkat menemui DJ Baron namun DJ Baron mengatakan bahwa korban tidak pernah lagi datang ke tempat tersebut. 

   Karena tidak membuahkan hasil, selanjutnya Handi menyuruh Muhammad Dandi untuk mengechat korban berpura-pura menanyakan harga mobil Terios yang ada di facebook korban. Para terdakwa pun mengatur rencana agar bisa bertemu dengan korban.

   "Selanjutnya disepakati bertemu di parkiran SPBU Jalan Sei Batang Hari Medan. Di lokasi tersebut para terdakwa memaksa korban masuk ke dalam mobil," ungkap JPU.

   Korban kemudian dibawa ke lahan garapan Pasar 9 Desa Manunggal, Kecamatan Labuhan Deli, Kabupaten Deli Serdang.

   Di sana Suhemi memaksa korban dengan mengatakan, “Dimana si Dani, mana uang Rp200 juta yang dijanjikan". 

   "Namun korban hanya diam, lalu Suhemi menjambak rambut korban dan menghantamkan kepala korban ke lantai," cetus jaksa. 

  Tak berhenti di situ, Suhemi mengambil selang yang sudah dipersiapkan sebelumnya lalu memukuli wajah korban, sehingga korban menjerit mengatakan, "Tidak tau bang". 

   Takut aksi mereka diketahui warga, selanjutnya Suhemi menghubungi anggotanya untuk mencarikan rumah kontrakan. 

   "Rumah kontrakan tersebut pun didapat di Pasar III Timur Gang Alif, Kec. Medan Marelan," beber JPU. 

   Dengan kondisi korban dalam keadaan telanjang, mata dan badan dilakban lalu dibawa ke rumah kontrakan tersebut. 

  Di sana Suhemi memijak dada korban, menendang rusuk dan wajah korban dipukuli menggunakan selang. Hingga akhirnya korban pun tewas. Mayat korban lalu dibuang ke jurang di kawasan Berastagi, Kabupaten Karo. 

   Para terdakwa dijerat Pasal 338 jo pasal 55 ayat (1) ke-1e KUHPidana subs 340 jo Pasal 56 KUHPidana dengan ancaman hukuman maksimal seumur hidup atau hukuman mati. ( A-06 )

Previous
« Prev Post

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *