HEADLINE NEWS

Kategori

Perkara Aniaya dan Rampok Majikan, Empat Saksi Tak Kenal Tiara, Hanya Kenal Suwendi



MEDAN  |  kabar24jam.com 

Senin, 29/03/2021.

   Perkara Aniaya dan Rampok Majikan, empat saksi yang dihadirkan JPU Candra Priono Naibaho dari Kejari Medan, tak kenal dengan Tiara Syahputri( splitan). Sehingga pemeriksaan terhadap keterangan ke empat saksi tidak dilanjutkan. Hal itu terungkap pada persidangan yang digelar diruang sidang cakra9 Pengadilan Negeri Medan sesudah pemeriksaan keterangan para saksi dengan terdakwa Suwendi, Senin (29/03/2021).

   Dalam persidangan itu terdakwa Suwendi, setelah dakwaan dibacakan Chandra Naibaho ( JPU) dilanjutkan dengan keterangan keempat saksi yakni Po Kie Siung (Ayun), Po King Liang (Asiong), keduanya merupakan adik korban Po Khin Shin (sudah meninggal dunia), Marwin Pasaribu, dan Dokter Widi Gabriel Manurung.

   Ayun menjelaskan bahwa 17 Desember 2020 lalu sekitar pukul 17.00 Wib, sewaktu memasak air di dapur untuk abangnya Po Khin Shin alias Ali. Saat itu, ada yang memukul dirinya dari belakang sehingga dirinya pingsan.

  "Setelah sadar ia sudah berada di Rumah Sakit Royal Prima dan begitu juga dengan abangnya Ali," ucap Ayun sembari menyatakan baru tahu adanya kejadian perampokan dan kekerasan dirumahnya ternyata pelakunya Suwendi yang merupakan pekerja abangnya.

   Sementara itu, Asiong sempat membenarkan Po Khin Shin menghubungi dirinya tentang peristiwa kekerasan yang dialaminya. Mendengar itu saksi langsung ke lokasi mendatangi TKP yakni Toko Besi milik saksi korban Po Khin Shin dikawasan Jalan Gatot Subroto Lk. IV No.156/128 Medan.

   Sesampai di lokasi ia melihat Ayun tergeletak di lantai dan Ali dalam posisi di dalam kamar mandi.

  Tanpa pikir panjang saksipun langsung membawa ke rumah sakit. Sesampai di rumah sakit, Ali meminta saksi kembali ke rumahnya untuk mengecek apa saja yang hilang. Setelah dicek saksi dilaporkannya pada korban, uang yang berada di plastik kresek ada Rp11 juta dan dalam tas Rp3,5 juta sehingga totalnya Rp14,5 Juta.

   Sedangkan Marwin Pasaribu yang merupakan sesama pekerja dibengkel las milik Ali ( korban- red) menjelaskan, sempat melihat terdakwa setelah keluar masuk kembali ke dalam bengkel.

   "Sempat kulihat dia masuk ke dalam bengkel, kukira dia mau pinjam uang jadi ku tinggal pulang aja pak. Besok harinya Marwin mendengar ada peristiwa penganiyaan terhadap  tokenya, kakak beradik tersebut," ucapnya.

   Mendengar jawaban Marwin kemudian Ketua Majelis Hakim Donald Panggabean kembali menanyakan berapa gaji atau upah yang diberikan?, menjawab itu terdakwa diberikan upah Rp80 ribu. Dimana terdakwa bertugas mengantar barang saja pakai becak.

   "Dia kerjanya antar barang saja, kalau becaknya milik kami, dia hanya membawa saja. Selama tiga bulan bekerja orangnya baik tidak ada gelagat yang mencurigakan," ucap Ayun.

   Sementara itu, dr Widi Gabriel Manurung membenarkan kalau kedua korban dalam keadaan kritis dan sempat mendapat perawatan di IGD Rs Royal Prima.

   Kembali ke Asiong menutukan bahwa Ali meninggal setelah beberapa lama keluar dari rumah sakit karena kondisi kesehatannya kian menurun setelah kejadian tersebut.

   Usai mendengarkan kesaksian keempatnya, Majelis hakim sempat menanyakan untuk saksi Tiara yang merupakan istri terdakwa mana saksinya.

   Namun Jaksa menyatakan bahwa empat orang ini juga pak hakim. Mendengar itu, Majelis hakim sempat heran karena saat ditanyakan kepada keempat tidak mengenal Tiara.

   Namun JPU menyatakan, "Cuma empat ini aja saksinya, sama halnya dengan terdakwa Suwendi," ucap Candra

   Mendengarkan itu, Ketua Majelis hakim langsung menyatakan mereka tidak kenal dengan terdakwa Tiara, gimana mau kita periksa sambil tersenyum kearah JPU.

   Selanjutnya majelis hakim menunda  sidang selama sepekan masih dalam agenda keterangan saksi untuk Tiara.

  Sebagaimana dalam dakwaan jaksa, setelah berhasil melakukan kejahatan terdakwa langsung membelikan perhiasaan kepada istrinya dan sepeda motor untuk dirinya.

   Untuk perkara ini terdakwa Suwendi dikenakan Pasal 365 ayat (2) ke-3, 4KUHPidana subsidair Pasal 365 ayat (2) ke-3 KUHPidana dan lebih subsidair Pasal 365 ayat 1 KUHP.

  Sedangkan untuk terdakwa Tiara Syahputri, Chandra  diancam pidana dalam Pasal 480 ke-1 KUHPidana dan  subsidair perbuatan terdakwaTiara Syahputrisebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 480 ke-2 KUHPidana. ( 06 )


Teks foto, suasana persidangan diruang Cakra 9 Pengadilan Negeri Medan.

Previous
« Prev Post

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *