HEADLINE NEWS

Kategori

Lagi Dua Hari Berturut - Turut, Warga Pencari Keadilan Histeris di PN Medan

Wanita cantik teriak histeris minta keadilan.

MEDAN  |  kabar24jam.com 

Jumat, 26/03/2021.

  Lagi dua hari berturut - turut warga pencari keadilan dengan perkara berbeda kembali kecewa terhadap vonis hakim yang mencederai rasa keafilan histeris di PN Medan Kelas IA, Kamis (25/03/2021).

Perkara vonis Bis in idem,

   Pidana 4 tahun penjara yang dijatuhkan majelis hakim diketuai Ali Tarigan terhadap Johannes Widjaya di Cakra 6, terdakwa perkara tindak pidana membuat surat palsu atau memalsukan surat dinilai telah mencederai rasa keadilan.

   Kedua wanita pencari keadilan terlihat berteriak histeris tidak terima atas putusan hakim tehadap kerabatnya. Ketika aksinya dihalang- halangi sejumlah petugas satuan pengaman (satpam) pengadilan, terlihat semakin berteriak. 

   "Apa tenang, tenang? Kalian nggak tahu gimana rasanya diperlakukan seperti ini gini. Pengadilan harusnya menjadi  tempat dan benteng terakhir bagi pencari keadilan teriak wanita berkemeja putih yang coba ditenangkan satpam.

   Petugas satpam pun menyarankan agar tim PH terdakwa Johannes Widjaya menenangkan kerabat  terdakwa tersebut agar tidak mengganggu jalannya persidangan di ruangan lain. 

   Hingga petang tadi tim penasihat hukum terdakwa Johannes Wijaya, warga Jl. Bilal Gang Wario, Kelurahan Pulo Brayan Darat I, Kecamatan Medan Timur, Kota Medan / Jalan Ternak, Kelurahan Polonia, Kecamatan Medan Polonia, Kota Medan yang dicoba dikonfirmasi awak media belum bersedia memberikan komentar.

  Sementara pada persidangan lalu tim PH berpendapat kalau dakwaan primair JPU dari Kejari Medan pidana Pasal 263 ayat (1) KUHPidana Jo Pasal 64 ayat (1) Ke–1 KUHPidana 'dipaksakan'. 

   Sebab penuntut umum tidak mampu menunjukkan alat bukti adanya kerugian yang dialami saksi korban Erik Lionanto selaku Direktur Utama (Dirut) PT Liftec Indonesia Jaya (LIJ) dan sejumlah Purchase Order (PO) dengan kop surat PT LIJ di 2015 hingga 2017. 

   Namun majelis hakim diketuai Ali Tarigan berkeyakinan lain. Walau masih sebatas berpotensi kerugian bagi korban selaku pimpinan di PT LIJ. Bagi hakim sudah cukup membuktikan adanya oerbuatan tindak pidana yakni membuat surat palsu atau memalsukan surat.

  Sementara persidangan beberapa pekan lalu, JPU dari Kejari Medan di Cakra 3 menuntut agar majelis hakim menjatuhkan vonis 4 tahun dan 6 bulan penjara dengan perintah agar terdakwa tetap berada dalam tahanan.

# Nebis in Idem

   Sehari sebelumnya, beberapa pria di Cakra 2 nekat 'mengejar' majelis hakim usai membacakan putusan bebas kedua terdakwa pengeroyokan menewaskan rekan mereka, Syahdilla Hasan Afandi.

   Mereka berusaha menerobos barikade sejumlah satuan pengaman (satpam) yang berjaga-jaga di ruang sidang.

   Sekira ratusan massa dari keluarga maupun kerabat korban sedang diselimuti emosi. Mereka tidak terima dengan pertimbangan hukum terdakwa yang sudah divonis dalam perkara yang sama, tidak bisa lagi diadili. Populer disebut nebis in idem. 

   JPU dari Kejari Medan juga diperintahkan agar mengeluarkan kedua terdakwa yakni Sunardi alias Gundok dan Syarwan Habibi dikeluarkan dari tahanan. ( 06 )

Previous
« Prev Post

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *