HEADLINE NEWS

Kategori

Para Terdakwa Minta JPU KPK Tetapkan Status Hardi Muliyono Seperti Mereka



MEDAN  |  kabar24jam.com 

Senin, 08/02/2021.

    Para terdakwa merasa heran melihat Hardi Muliyono mantan anggota DPRDSU dari fraksi Golkar 2010-2012 panitia anggaran( Panggar), hadir sebagai saksi dalam sidang perkara ke 14 anggota Dewan tersebut. Menurut para terdakwa mereka sama- sama menerima uang ketok palu dari mantan Gubsu Gatot. Kalau mengembalikan uang para terdakwa juga sudah mengembalikan uang, namun status mereka tidak sama. Para terdakwa mohon perhatian JPU KPK terhadap rasa keadilan, ungkap para terdakwa.

   Hali itu dikatakan para terdakwa menanggapi keterangan saksi Hardi Muliyono untuk para terdakwa secara daring melalui monitor diruang sidang cakra8  Pengadilan Negeri ( PN ) Medan dengan majelis hakim yang diketuai Immanuel Tarigan Senin, (08/02/2021 ).

   Sebelumnya Hardi Muliyono menerangkan, saksi bersama Sudirman Halawa satu fraksi. Saksi hanya mendengar saja dari teman- teman di dewan, ada pembagian uang ketok palu untuk APBD 2013 sesuai dengan jabatan dari Pemrov. Seoengetahuan saksi secara umum seluruh anggota dewan menerima. Tapi saya tidak melihat langsung penyerahan uangnya. 

   Saksi mengakui awalnya menerima 15 juta dari Ali Hanafiah dikantornya, tapi lupa untuk apa. Kemudian saat Pengesahaan APBD 2013- 2014 saya terima 50 juta diruang kerja Alihanafia. Lalu diTahun 2015 ada uang pengesahaan LPJ senilai 200 juta, namun untuk Fraksi Golkar sudah diambil dikatakan Fuad Lubis.

   Selanjutnya saksi Hardi Muliyono juga mengakui ada terima dari Hamami 50 juta didepan RS Bunda Thamrin. Lalu dari Sudirman Halawa ada menerima 50 juta pengesahaan APBD juga, itu diparkiran Medan Plaza 2014. Menurut Hardi Muliyono, dirinya sama istri dan terdakwa Sudirman juga beserta istri. 

    Saksi mengakui ada menerima uang ketok palu sebanyak 4 kali dan sudah mengembalikannya senilai 170 juta ditahun 2020 lalu. Saksi juga menjelaskan kalau dirinya menerima uang tersebut tidak lagi menjadi anggota dewan lagi. 

    Saksi tidak mengetahui pasti apakah teman- temannya mengembalikan uang ketuk palu tersebut. Namun yang jelas dirinya telah mengembalikan uang tersebut. Ketika ditanya majelis hakim berapa Anggota dewan di Sumut dan berapa pimpinan. Dikatakan Hardi Muliyono, kalau Anggota dewan ada 150 orang, dan 5 pimpinan fraksi. 

   Untuk negosiasi inisiatif ke 5 pimpinan,terang mantan anggota dewan ini.Lanjut Hardi Muliyono, "setiap pelaksanaan pengesahan APBD selalu ada pemberian uang ketok dan itu bukan rahasia umum lagi, "jelas Hardi Muliyono.

   Jadi terdakwa yang sedang disidangkan dan saudara sebagai saksi apakah selaku pimpinan atau anggota. Mereka anggota pak hakim. Pada saat itu terlihat terdakwa Sudirman Halawa keberatan tidak ada kapasitas dirinya memberikan uang ketok tersebut. Sedangkan terdakwa Ramli keberatan atas keterangan saksi Hardi Muliyono, "katanya saksi hanya mendengar tetapi yakin semua menerima, namun tidak melihat, keterangan macam apa itu pak hakim, " dengan nada keberatan.

    Usai memeriksa keterangan mantan anggota dewan Sumut itu, majelis hakim melanjutkan meriksa keterangan para terdakwa khusus untuk 7 terdakwa, Robet Naiggolan menjadi anggota dewan sejak 2009- 2014. Layari Sinukaban 2009- 2014 dan Jaforman 2009-2014 diperiksa keterangannya sebagai terdakwa secara bersamaan.

   Ketika ditanya pihak Penuntut Umum ( PU) KPK kepada para terdakwa, apa tupoksi para terdakwa sebahgai anggota dewan, masing- masing terdakwa secara bergiliran menjawab sebagai pengawas dan regertrasi dan anggaran. Sampai pertanyaan tentang menerima uang ketok palu, para terdakwa mengakui ada menerima dan telah mengembalikannya diantaranya, Jaforman Saragih telah mengembalikan 427.500 juta Layali Sinukaban 427.500 juta sesuai diterima. 

 Sedangkan Robet Nainggolan hanya mengembalikan 327.500 juta sebelum ditahan pihak KPK. Sementara pihak JPU dari KPK menyatakan Robet menerima 427.500 juta menurut catatan Ali Hanafiah. Menurut Robet uangnya ada dipakai Randiman Tarigan. Nalar Robet itu uang pengembalian uang yang dipakai Randiman dicicil melalui Ali Hanafia. Namun Robet bersedia mengembalikan 100 juta lagi janjinya pada majelis hakim dihadapan JPU KPK.

   Rahmad Pardamean Hasibuan juga mengakui menerima uang dari Hamami dirumahnya sebesar 50 juta dengan pecahan 100ribu didalam plastik kresek hitam langsung pulang. Ketika itu Rahmad pergi ke rumah Hamami  bersama Ramli dan selanjutnya di SPBU Helvetia pukul 21.00wib 50 juta dari Ahmad Fuad Lubis selebihnya terdakwa lupa.

   Sedangkan uang yang sudah dikembalikan sebanyak diterimanya yakni 500 juta secara bertahap. "Dengan perincian, 15 juta, 85 juta, 200 juta dua kali, ungkap terdakwa.

   Terdakwa mengatakan satu Fraksi sama dengan Ramli di Demokrat selaku anggota di dewan. Terdakwa mengakui tidak pernah mengikuti rapat fraksi. Menurut Rahmad terdakwa Hamami dari Fraksi Hanua. Dikatakan Rahmad Hamami tempat mengumpulkan uang dan kawan- kawan di dewan tahu itu.

   Sebelum menutup persidangan usai mendengarkan keterangan para terdakwa, majelis hakim menjelaskan, para terdakwa akan mendengarkan tuntutan dari JPU pada tanggal 1 Maret 2021.( Apri)

Previous
« Prev Post

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *