HEADLINE NEWS

Kategori

Oknum Polri Terkait Sabu 2 Kali Divonis, Mendapat Keritikan Direktur LBH Medan



MEDAN  |  kabar24jam.com 

Rabu, 10/02/2021.

   Ade Saputra Ginting oknum polisi yang 2 kali divonis terkait tindak pidana narkotika Golongan I jenis sabu mendapat kritikan tajam dari Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Medan Ismail Lubis.

   Menurut Isamil, "Kita sepakat jika perkara peredaran narkoba dihukum berat. Apalagi yang melakukan mantan anggota polisi, maka memang pantas dihukum berat demi menimbulkan efek jera. Tapi tidak lah perlu seseorang sampai dihukum 2 kali, kan Mubazir. Sebaiknya kedepan tidak terulang lagi," tegas Direkur LBH Medan itu, ketika dihubungi lewat sambungan WhatsApp oleh wartawan, Rabu (10/02/2021).

   Dikatakan alumni Fakultas Hukum Universitas Islam Sumatera Utara (FH -UISU) tersebut, seharusnya ini dapat dipandang sebagai peristiwa hukum yang berhubungan, sekali pun ada potensi 2 tindak pidana yang berdiri sendiri.

   Akibatnya proses penyidikan sampai kepada penuntutan dan pemeriksaan di pengadilan  (PN Medan-red) dilakukan 2 kali. Satu perkara tindak pidana sebagai perantara jual beli (kurir) dan1 lagi perkara tanpa hak menguasai narkotika yang nota bene terdakwanya oknum tersebut.

  "Sehingga hal ini kami pandang sebagai penegakan hukum yg 'bertele-tele' dan tidak mengandung asas kemanfaatan serta asas peradilan cepat, sederhana dan biaya ringan. Jadi cukup 1 perkara, tapi dituntutan diperberat," tegas Ismail.

   Seharusnya terdakwa yang mengaku sudah dipecat dari intlstitusi Polri itu bisa dilakukan proses pemidanaan secara bersamaan dan dapat dijerat dengan pasal berlapis yg barang tentu akan memperberat hukuman.

   Sebaliknya penegakan hukum yang baru saja menimpa terdakwa Ade Saputra Ginting bisa menimbulkan bias di tengah-tengah publik. Sama perkara narkotika namun divonis sampai 2 kali.

   "Kita tidak bisa menyalahkan pihak pengadilan karena memang mereka tidak bisa menolak perkara. Harusnya pada saat penyidikan hingga penuntutan sudah bisa digabung dalam 1 register perkara, sehingga tidak bertele-tele dan terkesan mubazir," pungkasnya.

   Diketahui Ade Saputra Ginting. Selasa petang (2/2/2021) lalu di ruang cakra 9 PN Medan divonis 8,5 tahun penjara dan denda Rp1 miliar, dengan ketentuan apabila tidak dibayar maka diganti 6 bulan penjara.

   Terdakwa diyakini terbukti bersalah melakukan tindak pidana tanpa hak menjadi perantara jual beli narkotika Golongan I jenis sabu sebagaimana diancam dalam pidana (dakwaan primair-red) Pasal 114 ayat (2) jo Pasal 132 ayat (1) UU No 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.

   Terdakwa terbukti bersalah menjadi kurir narkotika Golongan I jenis sabu kepada salah seorang tahanan bernama Boy Zulkarnaen di RTP Polrestabes Medan.

   Kemudian Ade Saputra, Selasa petang kemarin (9/2/2021) kembali divonis 5 tahun penjara dan denda sebesar Rp800 juta subsidair 6 bulan penjara di ruang Cakra 6 PN Medan.

   Bedanya, kali ini terdakwa diyakini terbukti bersalah tanpa hak menguasai narkotika Golongan I jenis sabu persisnya ditemukan pada bong. Yakni (juga dakwaan primair-red) melanggar pidana Pasal 112 ayat (1) UU Narkotika atau Pasal 127 ayat (1) huruf a UU Narkotika. ( Apri)

Previous
« Prev Post

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *