HEADLINE NEWS

Kategori

Rugikan Togi Rp. 2,2 Miliyar, Jhon Piter Naiborhu Dituntut 3 Tahun 6 Bulan Penjara Tanpa Ditahan



MEDAN  |  kabar24jam.com 

Selasa, 15/12/2020.

   Jaksa Penuntut Umum ( JPU) Fransiska Panggabean tuntut pidana Jhon Piter dengan hukuman 3 tahun 6 bulan penjara diruang sidang cakra7 Pengadilan Negeri ( PN ) Medan, dipimpin majelis hakim yang diketuai Jarihat Simarmata, Selasa ( 15/12/2020).

   Dalam nota tuntutan pidana JPU Fransiska menerangkan bahwa terdakwa Jhon Piter terbukti melakukan tindak pidana penggelapan melanggar pasal 378 KUHP terhadap dana yang telah diberikan Togi untuk modal kerja pemadatan jalan tol Kuala Namo - Tebing Tinggi dengan volume 10.000m3 dengan nilai kontrak Rp.4 MIliyar.

   Usai mendengarkan tuntutan dari JPU dari Kejati Sumut itu, majelis hakim PN Medan tersebut menunda sidang untuk memberikan kesempatan pada PH terdakwa Jhon Piter membacakan nota pembelaan ( Pledoi ) didepan persidangan pada persidangan pekan mendatang.

   Meski telah di tuntut pidana 3 tahun 6 bulan pantauan wartawan di Pengadilan tersebut, terdakwa masih bebas m nghirup kebebasannya tanpa ada dilakukan penahanan baik dari JPU maupun Majelis hakim. Ketika dikonfirmasi terhadap terdakwa usai persidangan, Jhon Piter memilih diam tanpa komentar sambil meninggalkan gedung pengadilan.

   Sebelumnya dalam dakwaan JPU diterangkan, sekitar bulan Oktober 2016 Terdakwa Ir. Jhon Piter Naiborhu menjumpai Saksi Korban Togi Hasian Simanjuntak, SE.MM di Jalan Brigjen Katamso Kota Medan tepatnya di Singapore Station. Kemudian Terdakwa bercerita bahwa dia ada mendapatkan Subkontrak dari PT. Hutama Karya (HK) Join Operation (CHEC-CSCEC-HK JO) atas pekerjaan proyek pemadatan Jalan Tol Medan-Kualanamu-Tebing Tinggi dengan volume pekerjaan 10.000 m3 dengan nilai kontrak sebesar Rp. 4.000.000.000,-.

   Terdakwa juga menunjukkan RAB pekerjaan dan menawarkan kerja sama kepada Saksi Korban untuk melaksanakan pekerjaan proyek tersebut dengan menjanjikan bahwa Saksi Korban akan mendapatkan estimasi keuntungan 10 % atau sebesar Rp. 419.350.000,- dan untuk pelaksanaan pekerjaan tersebut Terdakwa meminta kepada Saksi Korban memberikan modal dan juga memberikan perusahaan milik Saksi Korban yakni PT. Asia Timur Raya Nusantara yang akan mengerjakan pekerjaan dimaksud. 

   Terdakwa juga meminta agar dia yang mengerjakan proyek tersebut di lapangan, atas bujukan dan iming-iming keuntungan tersebut sehingga Saksi Korban tertarik dan mengabulkan permintaan Terdakwa untuk memberikan modal serta perusahaannya.e

   Kemudianpada tanggal 31 Oktober 2016 Saksi Korban memberikan Kuasa kepada terdakwa sebagai Kuasa Direktur PT. Asia Timur Raya Nusantara yang dibuat di kantor FERRY SUSANTO LIMBONG, S.H., M.Hum Notaris di Medan sesuai Surat Kuasa Direktur tanggal 31 Oktober 2016 legalisasi/Waarmeking Nomor : 1592/LEG-NOT/X/2016, lalu pada tanggal 18 Januari 2017 Terdakwa selaku Kuasa Direktur PT. Asia Timur Raya menandatangani subkontrak dengan pihak PT. Hutama Karya (HK) Join Operation (CHEC-CSCEC-HK JO) yang tertuang dalam dokumen Contract Agreement of “ Aggregate Base Course “ Sub Contract No : SUB-138/CHEC-CSCEC-HK JO tanggal 18 Januari 2017. 

   Sedangkan pihak CHEC-CSCEC-HK JO diwakili oleh LIU JUNSHI sedangkan PT. Asia Timur Raya Nusantara diwakili oleh Terdakwa  Ir. JHON PITER NAIBORHU dengan jenis pekerjaan sesuai dengan kontrak adalah Aggregate Base Class B dengan volume pekerjaan 10.000 m3  (sepuluh ribu meter kubik), nilai kontrak sebesar Rp. 4.000.000.000,- lokasi pekerjaan di Tanjung Morawa dan masa pelaksanaan pekerjaan selama 2 bulan. 

   Kemudian Saksi Korban juga memberikan modal pekerjaan proyek dimaksud kepada Terdakwa secara bertahap dari sejak tanggal 22 Januari s/d 27 April 2017 dengan total sebesar Rp. 3.610.000.000,-. Terdakwa mengerjakan proyek pemadatan Jalan Tol yang dimaksud sejak sekitar bulan Januari 2017 dan seharusnya Terdakwa harus mengerjakan pekerjaan Aggregate Base Class B dengan volume pekerjaan 10.000 m3 akan tetapi ternyata Terdakwa di lapangan hanya mengerjakan sampai volume pekerjaan sebesar 3864,5 m3  atas hal tersebut Terdakwa telah melakukan rangkaian kebohongan kepada Saksi Korban khususnya pada saat beberapa kali meminta atau menerima uang modal dari Saksi Korban.

   Terdakwa selalu menyatakan bahwa volume pekerjaan yang dikerjakannya adalah 10.000 m3 padahal nyatanya yang dikerjakan di lapangan hanya mencapai sekitar 3864,5 m3 sehingga Saksi Korban selalu percaya kepada Terdakwa dan mau memberikan modal uang sesuai permintaannya. Atas pekerjaan Terdakwa  yang hanya dengan volume sekitar 3864,5 m3 tersebut sehingga kemudian pihak PT. HK-JO melakukan pembayaran pekerjaan secara termin kepada pihak PT. Asia Timur Raya Nusantara hanya sebesar Rp.1.545.800.000,-(satu milyar lima ratus empat puluh lima juta delapan ratus ribu rupiah) bukan sebesar Rp.4.000.000.000,- (empat milyar rupiah) sebagaimana yang dijanjikan Terdakwa.

   Atas kebohongan Terdakwa sehingga Saksi Korban  kemudian  meminta pengembalian sisa modal uangnya yang telah diserahkan kepada Terdakwa sekitar Rp. 2.214.313.560,-(dua milyar dua ratus empat belas juta tiga ratus tiga belas ribu lima ratus enam puluh rupiah) akan tetapi Terdakwa tidak mengembalikan modal uang Saksi Korban tersebut sebesar dimaksud melainkan hanya dikembalikan sebesar Rp.120.000.000,-(seratus dua puluh juta rupiah) sedangkan sisanya diduga telah dimiliki atau dipergunakan oleh Terdakwa untuk modal pekerjaan dan dipergunakan untuk keperluan pribadinya, akibat perbuatan Terdakwa sehingga Saksi Korban mengalami kerugian sekitar Rp 2.214.313.560,- (dua milyar dua ratus empat belas juta tiga ratus tiga belas ribu lima ratus enam puluh rupiah).

   Perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana melanggar Pasal 372 KUHP dan 378 KUHP. (Apri)

Previous
« Prev Post

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *