HEADLINE NEWS

Kategori

PH : Perkara Samsuri Prematur, Lamidi Akui Ada Laporkan Antoni Tarigan

Samsuri di dampingi Penasehat Hukum Marihot Simbolon Mendengarkan keterangan saksi Lamidi


MEDAN  |  kabar24jam.com 

Kamis, 24/12/2020.

   Sidang lanjutan perkara dugaan penipuan senilai Rp3 Milliar dengan terdakwa Samsuri (68) didampingi tim Penasehat Hukum(PH) Ahmad Sukri Lubis SH, Marihot Simbolon SH dan Hendrik Manalu SH. MH kembali berlangsung diruang Cakra3 Pengadilan Negeri Medan, Rabu (23/12/20), sore.

   Persidangan yang dipimpin Ketua Majelis Hakim Tengku Oyong beragendakan pemeriksaan keterangan saksi Lamidi Laidin didepan persidangan yang dihadirkan pihak JPU..

   Lamidi dalam keteranganya mengatakan, dirinya dihadirkan JPU kepersidangan sebagai saksi yang membeli tanah dan memberikan uang pengganti panjar serta kompensasi sebesar Rp. 3 miliyar dari Antoni Tarigan kepada Samsuri.

   Dalam kesaksiannya Lamidi mengatakan, G Jhonson mau menjual tanah seluas 570 M2 yang terletak di Jln. HOS Cokroaminoto No. 8 Kel. Pandau Hulu I Kec. Medan Kota. Kemudian saya tertarik dan membelinya. Namun Lamidi tidak mengetahui kalau ada pihak lain yang sudah melakukan perjanjian jual- beli tanah tersebut.

   Ketika ditanya Hakim Ketua Oyong, " kapan saksi tahu kalau itu sudah ada jual beli sebelumnya dengan pihak lain". Saya lupa pak hakim, yang jelas pada saat saya di panggil penyidik dan diperiksa baru saya ingat, " terangLamidi.

   "Memang saya ( saksi Lamidi- red) ada membeli tanah dari G. Jhonson seluas 570 M2 dan Antoni Tarigan sebagai saksi dalam jual beli itu pak hakim, " tegas Lamidi lagi.

   Kemarin Antoni Tarigan kami periksa keterangannya diruang sidang ini mengatakan dirinya Selaku kuasa penjual kepada Samsuri dengan kesepakatan harga Rp1.250.000.000.-. 

   Bahkan terdakwa ada memberikan panjar isebesar Rp625.000.000.- dan sisanya dibayarkan setelah surat-surat atas tanah tersebut ( sertifikat)selesai diurus atau diterbitkan oleh instansi yang berwenang, " papar Oyong pada saksi Lamidi.

   Dikatakan Oyong lagi, "Kemudian berselang beberapa waktu tepatnya di 2013, Antoni pun mundur dari kesepakatan perjanjian akta jual beli dengan membayar uang kompensasi kepada terdakwa senilai Rp3 Milliar melalui saksi untuk diberikan kepada terdakwa Samsuri agar membatalkan jual beli tersebut. Apa betul seperti itu, " tanya hakim ketua majelis tersebut.

   Lanjut Oyong lagi, "Bahkan kata saksi Antoni, saksi dan Samsuri membuat surat pernyataan sendiri- sendiri bukan membuat surat pembatalan perikatan jual beli, jelas saksi korban Antoni. Sampai saat ini tidak juga pernah diberikan. Sehingga korban merasa dirugikan dan tertipu lalu melaporkan terdakwa kepada pihak kepolisian, " tandas hakim ketua itu.

   " Itu salah pak hakim, Antoni Tarigan hanya saksi dalam Jual - beli itu. Memang ada saya terima dari Antoni uang sejumlah Rp. 3 miliyar. Saya menerimanya secara bertahap sampai jumlah uangnya Rp. 3 M, " terang Lamidi pada hakim. Dikatakan Lamidi, " kami tidak ada membuat surat pernyataan seperti yang dikatakan Antoni pak Hakim, ungkapnya sambil melihat pada JPU.

   " Terserah kalian lah, siapa yang berbohong, jual beli gak jadi. Uang pengganti dan kompensasi jelas, mengapa Antoni melaporkan Samsuri ke pihak yang berwajib, "tanya hakim Oyong kepada saksi Lamidi.

   " Apa saksi ada dilaporkan Antoni, ada pak hakim. Bahkan saya juga melaporkan dia ( Antoni Tarigan) gelapkan sertifikat tanah tersebut, jelas Lamidi. " Jadi siapa sekarang yang menguasai tanah itu, " tanya Oyong kembali. " Saya pak hakim, karena saya telah membelinya dari G Jhonson, " tandas Lamidi. Setelah mendengarkan keterangan dan tanggapan terdakwa Samsuri terhadap keterangan Lamidi. Majelis hakim menunda sidang hingga 5 Januari 2021 untuk Ahli yang dihadirkan JPU.

   Secara terpisah Penasehat hukum terdakwa Samsuri yakni, Ahmad Sukri Lubis SH ketika dimintai keterangannya seputar perkara tersebut mengatakan, " Klaein kami pembeli beritikad baik. Selain itu dalam jual - beli tanah seluas 570M2 telah memberikan panjar kepada Antoni Tarigan senilai Rp.625 juta. 

   Namun tanah yang sudah dipanjat tersebut, dijual oleh pemiliknya Jhonson kepada saksi Lamidi yang diruang sidang tadi, terang Sukri. Kemudian tanpa sebab Antoni minta dibatalkan jual - belinya terhadap klaein kami dan memberikan uang Rp. 3 M sebagai pengganti panjar dan kompensasi melalui si Lamidi tadi, " ucap Sukri lagi.

   " Anehnya lagi bang, Samsuri dilaporkan Antoni dengan tuduhan penggelapan uang yang dikatakannya sebagai pengganti panjar dan kompensasi. Jadi kami selaku PH Samsuri kecewa terhadap penerapan hukum pada Klaein kami ini, " Ungkap Sukri dengan nada kecewa.

   " Kami melihat perkara ini belum cukup memenuhi alat bukti. Sebab seseorang di jadikan tersangka harus terpenuhi minimal dua alat bukti. Jadi kami menganggap perkara ini prematur untuk disidangkan, " pungkas Sukri. Mengakhiri tanggapannya terhadap perkara yang dihadapi klaeinnya, Ahmad Sukri berharap tidak ada lagi kejadian seperti yang dialami klaeinnya saat ini. (AP) Terpantau terdakwa yang terlihat enjoy dan  santai dikursi pengadilan karena tidak dilakukan penahanan hanya berdalih kalau dirinya tidak pernah diberitahu oleh Lamidi dan korban tidak pernah menemuinya (korban-red).

   Ia pun beralibi, Lamidi menyebut bahwa perjanjian pembatalan akta kontrak perjanjian jual beli setelah sertifikat dikeluarkan.

   Ketua Majelis Hakim yang mendengar penyampaian terdakwa meminta agar Lamidi dihadirkan agar bisa dikonfrontir tentang ucapan tersebut.

   Usai itu, majelis hakim menunda persidangan hingga pekan depan.uri agar mbatalkan perjanjian jual beli tersebut.(Apri)

Previous
« Prev Post

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *