HEADLINE NEWS

Kategori

Kapolrestabes Medan Sebut Polsek Sunggal Tidak Menganiaya 2 Tahanan Yang Meninggal



MEDAN  |  kabar24jam.com 

Kamis, 15/10/2020.

   Kapolrestabes Medan Kombes Pol Riko Sunarko mengatakan kalau anggotanya dari  petugas polisi Reskrim Polsek Sunggal tidak melakukan penganiayaan terhadap 2 orang tahanan yang meninggal beberapa hari lalu.

   Hal tersebut diungkapkan Riko kepada wartawan saat melakukan paparan di Polrestabes Medan pada 14 Oktober 2020.

   Rico menyebut kematian para tahanan disebabkan oleh penyakit yang diderita tahanan tersebut.  

   Riko juga mempersilakan wartawan untuk mewawancarai para tahanan lainnya untuk menanyakan apakah para tahanan disiksa atau tidak saat proses pemeriksaan di Polsek Sunggal.

    Riko mengaku Kapolsek Sunggal Kompol Yasir telah di periksa di Propam Poldasu terkait meninggalnya 2 orang tahanan Polsek Sunggal.

    Riko menjelaskan jika ke 2 orang yang meninggal sempat dirawat di Rumah Sakit karena penyakit yang diderita.   

   "Dua orang  tahanan yang tewas itu Joko Dedi Kurniawan dan Rudi Efendi ternyata diberikan pelayanan dan perawatan terbaik di rumah sakit, " kata Riko didampingi Kapolsek Sunggal Kompol Yasir.

   Bahkan, sambungnya,  keduanya sampai dirawat lima kali. "Polsek Sunggal sudah menjalankan tugasnya dengan baik, " tambahnya.

    Terkait pihak keluarga tahanan Polsek Sunggal yang melapor ke Poldasu atas meninggalnya tahanan Sunggal itu, Riko mengatakan tidak pernah melakukan intervensi.

   Dia mengatakan proses hukum sedang dilakukan oleh Propam Polda Sumut. Dari pemeriksan internal yang dilakukan Polrestabes Medan, tidak ada penganiayaan yang dilakukan oleh Personil Polsek Sunggal semasa dalam Tahanan. 

"Ternyata, dari pemeriksaan internal kami, bahwa hal tersebut tidak pernah terjadi hasil pemeriksaan sementara,"  ujar Riko.

    Dalam keterangan Riko,   kedua tahanan yang meninggal ditangkap pada 8 September 2020 malam. Keduanya diduga melakukan pencurian dan kekerasan bersama enam orang rekannya.

    Ada 8 orang saat  itu melakukan pencurian dengan modus memakai seragam dan identitas Polri serta Badan Narkotika Nasional (BNN) untuk beroperasi di jalanan.  Delapan orang itu menyamar menjadi polisi gadungan dan merampas kendaraan serta uang korbannya.

   Adapun identitas Kedua tahanan yang meninggal  adalah Rudi dan Joko. Dijelaskan  Riko, keluarga kedua tahanan itu menyatakan tidak ingin dilakukan autopsi pada saat diketahui meninggal.

    "Keluarganya menyatakan tidak mau atau menerima bahwa tersangka ini meninggal karena sakit. Dibuktikan dengan surat pernyataan bahwa mereka menolak untuk diautopsi," Kata Riko

   Tapi  keluarga tahanan meninggal  membuat laporan ke Polda Sumut karena keluarga menilai kematian tidak wajar.

   Namun Riko merasa heran dengan laporan tersebut sementara ada surat pernyataan keluarga menerima kematian tersangka.

   Jadi yang menarik di sini adalah, setelah membuat pernyataan, kemudian mereka membuat laporan polisi ke Polda Sumut" ujarnya.

   Riko juga mengatakan kalau  para tahanan itu tidak pernah  dipisah - pisahkan selama di rutan polsek sunggal. 

   Di tempat terpisah, Kapolsek Sunggal Kompol Yasir Ahmadi SH SIK MH, melalui Kanit Reskrim AKP Budiman Simanjuntak SH MH, membantah kematian tersangka Joko dan Rudi Efendi akibat dianiaya oknum petugas.

   Dijelaskan Kanit, awalnya tersangka ditahan di RTP Polsek sunggal atas kasus pencurian dengan kekerasan dengan modus mengaku sebagai petugas kepolisian bersama dengan beberapa orang temannya.

   Dilanjutkan Kanit, saat menjalani penahanan,  tersangka Joko dan Rudi Efendi mengalami sakit beberapa kali, yaitu, tanggal 23 September 2020, tersangka mengalami sakit dengan keluhan lambung dan kepala sehingga penyidik membawa tersangka ke RS Bhayangkara, setelah diperiksa dokter, tersangka diperbolehkan pulang,  tanggal 25 September 2020, tersangka mengeluh sakit dan dibawa kembali berobat ke RS Bhayangkara dengan keluhan lambung dan kepala setelah di periksa oleh dokter, tersangka disarankan untuk opname.

   Pada saat itu, penyidik langsung memberitahukan kepada keluarganya yang selanjunya ikut menemani tersangka. Setelah diopname selama 3 (tiga) hari, dokter yang merawat menyatakan tersangka sudah sembuh dan diperbolehkan pulang tepatnya tanggal 28 September 2020.

   Selanjutnya pada tanggal 29 September 2020, tersangka kembali mengeluh sakit, dan setelah diperiksa dokter, tersangka diperbolehkan meninggalkan RS Bhayangkara.

   Tanggal 1 Oktober 2020 tersangka mengeluh sakit dan dibawa kerumah sakit setelah di periksa tersangka diperbolehkan meninggalkan RSU Bhayangkara.

   Tanggal 2 Oktober 2020 sekira pukul 08.00 WIB, tersangka mengeluh sakit selanjutnya petugas langsung membawa ke RS Bhayangkara dan dilakukan perawatan oleh dokter, setelah ditangani dokter yang merawat, tersangka dinyatakan meninggal dunia.

    Ditambahkannya lagi, bahwa saat dalam perjalanan menuju RS Bhayangkara, pihaknya telah menghubungi keluarga tersangka dan memberitahukan kondisi tersangka yang kembali sakit.

   "Setelah dinyatakan meninggal dunia oleh dokter, pihak Polsek Sunggal sesuai dengan SOP yang ada dan koordinasi dengan pihak kedokteran untuk dilakukan otopsi terhadap jenazah tersangka, namun pihak keluarga tsk dalam hal ini adalah istri dan paman tsk bermohon dengan sangat agar tidak dilakukan otopsi terhadap jenazah tsk dan membuat surat permohonan tidak dilakukan otopsi, meskipun dari Polsek Sunggal sudah menyarankan agar mereka berembuk terlebih dahulu dengan keluarga yang lain, namun mereka atas nama keluarga almarhum alias Joko menyatakan ikhlas atas kematian Joko dan memohon agar tidak dilakukan otopsi jenazah, " ujarnya. 

   Atas dasar permohonan keluarga tsk tersebut, pihak Polsek Sunggal selanjutnya meminta kepada dokter agar dilakukan visum luar saja dan usai dilakukan visum selanjunya jenazah diserahkan kepada pihak keluarganya untuk dikebumikan.

   "Jadi tidak benar jika dikatakan bahwa terhadap tersangka Joko ada penganiayaan yang dilakukan oleh oknum Polsek Sunggal", tegas Kanit mengakhiri.

   Dalam kasus polisi gadungan itu, pihak Polsek Sunggal berhasil mengamankan 8 orang sebagai polisi gadungan yang berhasil merampas sepeda motor para korban di wilayah hukum Polsek Sunggal tiga pekan lalu.  

   Mereka masing-masing, Muhammad Budiman (38), Khairunnisa (18), Supriyanto (38), Edi Saputra (31), Yoga Erlangga (28), Diki Ari Wibowo (28), Yudi Hartono, Sukirman (31), dan Rudi Effendi (40).

   Sebelumnya, pengungkapan komplotan polisi gadungan  ini berawal dari laporan korban JP (15) warga Jalan Asoka, Asam Kumbang ke Polsek Sunggal.

   Sementara tersangka Edi Syahputra yang merupakan adik kandung dari Almarhum Joko mengaku bahwa abangnya meninggal bukan dianiaya namun karena sakit dan mempunyai riwayat sakit di kepala.

   "Polisi tidak ada menganiaya, Abang saya sakit itu, " Kata Edi dihadapan para wartawan.

REPORTER : BERTHON SIREGAR

Previous
« Prev Post

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *