HEADLINE NEWS

Kategori

"ASA DIHIMPIT DUKA." Catatan Perjalanan Hidup Laras dan Ibunya.



Medan | Kabar 24 jam.com

Selasa, 13/10/2020.

   Dada senantiasa sesak, mata membengkak dan air pun menetes bila melihat buah hatinya tidur dengan kulit keriput.

   Dua tahun sudah berlalu sejak mata ini terus meneteskan air. Sesal....marah...yang tak tau kemana arahnya.

   Itulah yang aku hadapi setiap hari, tanpa ada tempat mengadu atau mencurahkan isi hati ini, kenang ibu Laras.

   Ah..seandainya...hidup sesuai harapan,  rumah tangga bahagia, bercanda dengan anak, berbagi susah dan senang dengan suami, oh Tuhan kenapa nasibku tidak seperti tetangga sebelah rumah ya....

   Kenang Rismaladewi sambil menatap wajah putrinya Laras yang berusia 8 tahun. Pasti Laras merindukan suara ayahnya, ya...dia pasti rindu senyum dan pelukan ayahnya.

   Lagi-lagi desahan nafas panjang terdengar dari ibu Laras disertai tetes-tetes air dari matanya.

    Ya, terlihat sangat terpukul jiwanya setelah mengetahui Laras disiksa dan dibakar pakai mancis bajunya sehingga dada, perut, leher dan tangan kanannya rusak akibat api yang menyala dibaju Laras.

   Kejadian itu dia ketahui dari Laras setelah beberapa minggu. Ibu Laras sedang mengandung dan akan melahirkan bayinya.

   Laras yang masih berusia 6 tahun itu harus menerima takdir ditinggal ayahnya karena bercerai dengan ibunya. Sedangkan ibunya pun harus menikah juga untuk  mencari pelindung.

    Saat akan melahirkan, Laras dititipkan ibunya kepada temannya yang sudah lama dikenal dan dipercaya.

   Ya..Laras diasuh oleh orang lain sementara ibunya sudah berada di Rumah Sakit.

SESAL KEMUDIAN TIADA ARTI.

   Kata-kata itulah yang selalu terngiang dibenak Rismalawati, ketika ingat bagimana dia harus menjemput Laras dari rumah ibu asuhnya karena dipaksa, sementara jarum-jarum infus masih lengket ditubuhnya.

   Laras harus kujemput, Laras butuh aku ibunya, itulah yang mendesak dihatinya, setengah sadar meninggalkan bayi yang baru dilahirkan di RS.

   UNTUNG TAK DAPAT DIRAIH, MALANG TAK BISA DITOLAK.

   Berpikir nasib Laras, akhirnya bayi yang baru lahir pun meninggal dunia.

   Lagi-lagi Rismaladewi bak terempas oleh ombak laut yang kuat dan tinggi, tak kuasa menahan derita, hancur luluh perasaan, apalagi melihat sekujur tubuh Laras melepuh akibat luka bakar.

   Aku tak tau mengadu kemana selain saudara-saudara ku. Memang pernah terucap dari saudara-saudaraku, akan menghabisi pelaku pembakaran Laras, ucapnya sambil terus menangis meratapi nasibnya.

Habis sudah harapanku, hanya derita yang datang silih berganti. Ya Allah, semua kuserahkan pada Mu, Aku tak tau mau kemana, aku tak ngerti hukum.

   Begitupun, adik saya pergi juga melapor ke Polres Binjai. Ya kira-kira awal tahun 2019. Tapi sampai saat ini gak jelas prosesnya.

   Menurut informasi yang kuperoleh, berkas pengaduan Laras tidak diterima Jaksa, hanya karena gak ada saksi.

   Bagaimana pak, bagaimana mungkin Laras menghadirkan saksi, padahal saat kejadian hanya ibu asuh dan Laras disitu. Ya, ada juga suami ibu asuhnya, tapi tidur dikamar.

    Beginilah nasib orang susah yang gak punya uang dan jabatan, ucap Rismalawati, lirih.

Penulis : Taulim. P. Matondang. 

Previous
« Prev Post

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *