HEADLINE NEWS

Kategori

HUT BHAYANGKARA KE-74 POLRI: Sudahkah Polri Mewujudkan Rastra Sewakottama Maksimal

Oleh : DF Rangkuti.
Ketua Umum MKFMNI

Medan Kabar 24jam.com
Minggu 28/06/2020.
    Tak terasa Polri sudah berumur 74 tahun ( saat tanggal 1 Juli 2020).Usia yang boleh dikatakan sebagai sudah matang dan syarat dengan pengalaman jika kita personifikasi dan bandingkan dengan usia manusia.Sebagai salah satu institusi Kamtibmas dengan mengalami berbagai sejarah perjuangan dan perkembangan yang dinamis dari masa ke masa.
    Polri memang terus dituntut oleh negara dan rakyat Indonesia untuk tetap berbenah diri, berbenah sumber daya, berbenah isntitusi. Berbenah siinergitas dengan institusi lain termasuk dengan TNI.
Institusi yang pernah dipimpin oleh Jendral RS Sukanto ini sejak terpisah dari ABRI berdasar Intruksi Presiden No 2 tahun 1999( Oleh Presiden Habibi waktu itu) terus mengalami dinamika perkembangan dan kemandirian.
   Selain Kepolisian, pada masa Reformasi juga banyak dibentuk lembaga baru yang bertugas untuk penegakan hukum dan pembuatan kebijakan keamanan seperti Komisi Pemberantasan Korupsi (2002), Badan Narkotika Nasional (2009), Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (2010), Badan Keamanan Laut (2014). Perwira aktif Polri dapat menjabat dalam lembaga ini, baik menjadi penyidik, pejabat struktural sampai pimpinan. Lembaga-lembaga ini nantinya berkoordinasi dengan Polri sesuai tugas dan tanggungjawabnya.
    Selain dari paradigma dan organisasi, sampai saat ini polisi pun berbenah perlahan-lahan mendisiplinkan dan meningkatkan integritas anggotanya. Mengingat pada masa reformasi tidak sedikit anggota Kepolisian yang terungkap ke publik melanggar kode etik profesi bahkan terjerat hukum seperti korupsi, suap, rekening gendut, narkoba, dll. Selain kasus hukum, saling serang antara anggota Polri dan TNI dilapangan dan ketegangan antar lembaga penegak hukum masih mewarnai perjalanan reformasi Kepolisan
    Marwah dan wibawa institusi kepolisian tidak bisa hanya mengandalkan Marwah dan wibawa para jendral dan komandannya saja,apalagi pakaian dinasnya saja , tetapi harus melibatkan semua personal dan elemen dalam kepolisian sendiri untuk tetap menjaga Marwah dan wibawa institusi Polri ini.
Lambat laun jika tidak dibenahi institusi ini bukan saja Marwah dan wibawanya yang hilang,tetapi oleh masyarakat juga akan menjadi skeptis dan apatis terhadap institusi kepolisian.
Siapa lagi yang diharapkan masyarakat untuk mengayomi dan melindungi mereka, jika tidak institusi kepolisian.
Saat mereka mengadu dan membuat laporan bahwa mereka teraniaya dan dihadapi mereka para cukong,pengusaha, pe nguasa, disitulah azas keadilan itu menjadi sesuatu yang harus benar benar menjadi pertimbangan yang matang.
Memang masih banyak polisi yang baik, tetapi. Jika tidak diambil tindakan nyata,dan konsisten untuk menegakkan hukum dan disiplin bagi oknum oknum anggota kepolisian yang melanggar kode etik,hukum dan norma norma.lambat laun institusi ini akan terkontaminasi dan mengalami disintegritas.
Penulis yakin sistem remunasi, sistem teknologi, finansial,hubungan antar lembaga negara, hubungan polisi antar negara dan internasional dengan teknologi kekiniannya benar- benar jadi jadi pertimbangan untuk benar- benar di-update terus.
    Hanya saja dari segi pembinaan SDM untuk personal kepolisian belum maksimal sehingga bermunculan oknum oknum yang bisa merusak citra kepolisian.
   Polri yang tumbuh dan berkembang dari rakyat, untuk rakyat, memang harus berinisiatif dan bertindak sebagai abdi sekaligus pelindung dan pengayom rakyat. Harus jauh dari tindak dan sikap sebagai “penguasa”. Ternyata prinsip ini sejalan dengan paham kepolisian di semua Negara yang disebut new modern police philosophy, “Vigilant Quiescant” (kami berjaga sepanjang waktu agar masyarakat tentram).
    Sebagaimana kita ketahui bahwa Tribrata pertama itu adalah Rastra Sewakottama Polri adalah Abdi Utama daripada Nusa dan Bangsa dan jika dilanjutkan dengan Tribrata pertamanya yaitu Berbakti kepada Nusa dan Bangsa dengan penuh Ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, dilanjutkan dengan Menjungjung tinggi kebenaran dalam menegakkan hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UU D 1945, Seterusnya Senantiasa melindungi dan mengayomi dan melayani Masyarakat dengan keikhlasan untuk memujudkan keamanan dan ketertiban.
  Belum lagi pengamalan isi dari Catur Prasetya yang isinya antara lain:
CATUR PRASETYA
SEBAGAI INSAN BHAYANGKARA KEHORMATAN SAYA ADALAH BERKORBAN DEMI MASYARAKAT BANGSA DAN NEGARA UNTUK :
  1. MENIADAKAN SEGALA BENTUK GANGGUAN KEAMANAN
  2. MENJAGA KESELAMATAN JIWA RAGA HARTA BENDA DAN HAK ASASI MANUSIA
  3. MENJAMIN KEPASTIAN BERDASARKAN HUKUM
  4. MEMELIHARA PERASAAN TENTERAM DAN DAMAI
    Sungguh betapa mulianya jadi seorang polisi.Betapa mayarakat merindukan institusi yang benar benar bisa menjadi pengayom mereka,tetapi kadang kadang justru masyarakat agak takut berurusan dengan kepolisian.Kadang-kadang masyarakat tak jadi melaporkan sesuatu yang kenyamanan dia terusik.Pertimbangannya tentunya banyak antara lain waktu yang banyak tersita, khawatir finansial yang tidak cukup,dll.
Ini contoh saja,mudah mudahan bisa berubah: saat terjadi kecelakaan sesama pengguna mobil.Umumnya para pelaku akan berdebat siapa yang salah dengan mempertahankan kronogis dan logika penyebab kejadian, tetapi ujung ujungnya saat masyarakat lain menyakan cepat kalian selesaikan atau damai saja, jangan sampai polisi lalu lintas lewat,” kata masyarakat dan ini harus kita akui sistem peradilan kita tidak hanya pihak kepolisian saja, dari mulai pengacara,kepolisian,kejaksaan,pengadilan ( pengadilan negri,tinggi, mahkamah agung) Akhirnya para pelaku benar benar menghindar untuk tidak berhubungan dengan kepolisian dan penegak hukum lainnya.
    Seharusnya masyarakat akan cepat mencari polisi jika Tribrata dan Catur Prasatya di amalkan, bukan berarti mereka harus masuk tahanan , tetapi polisi bertindak sebagai penentram dan pendamai.
” Ah daripada tambah biaya lagi, lebih bagus hindari polisi dst begitulah kadang opini yang berkembang di masyarakat.
    Adalagi pameo di masyarakat,” Janganlah sampai berurusan dengan kepolisian dan jenjang peradilannya, “arang habis besi binasa” artinya sesuatu yang nampaknya akan sia sia.
    Maksud penulis mengungkapkan ini adalah rasa cinta penulis terhadap institusi kepolisian. jika memang dari Rastra Swakottama,Tribrata,dan Catur Prasetya itu dilaksakan oleh seluruh anggota kepolisian dari pangkat Tertinggi sampai terendah mungkin pameo pameo seperti itu perlahan lahan akan terkikis di tengah masyarakat.
    Ada beberapa solusi yang bisa menjadi bahan pertimbangan kepolisian agar Rastra Swakottama,Tribrata,dan Catur Prasetya tadi bisa mendarah dagingkan nilai nilainya untuk seluruh polisi di Indonesia.Aplikatif dari slogan slogan ini yang penting.
Bagaimana mendarah dagingkan nilai nilai Tribrata dan Catur Prasetya ?
   Itu yang penting, jika harus diskor 1 sampai 100%,berapa persenkah nilai Nilai Tribrata dan CaturPrasetya diamalkan oleh seluruh anggota polisi? Jawabannya harus100%juga, wajib.
Inilah kita sebut dalam pelatihan kami perubahan MPV (Mindet,Paradigma,Value) termasuk untuk Istri polisi ( bhayangkari) dan keluarganya untuk mendukung tugas tugas suami untuk mewujudkan Rastra Swakottama,Tribrata dan CaturPrasetya.
Bukankah hanya burung sejenis bisa terbang sama?
    Oleh karena itu penulis bersama Tim Diklat Majelis Kehormatan Forum Masyarakat Nusantara Indonesia( MKFMNI)
Siap bermitra untuk mewujudkan dan mendarahdagingkan nilai nilai Rastra Swakottama,Tribrata,dan CaturPrasetya untuk untuk seluruh polisi dan Bhayangkara dan para byhayangkari menuju polisi yang profesional berintegritas dan bermartabat.
Selamat Hut Bhayangkara Polri Ke-74 ( 1 Juli 2020)
Sesuai dengan tema tahun ini
” Kamtibmas Komdusif,Masyarakat Semakin Produktif” Ujuar DF. Rangkuti.  (Red).

Previous
« Prev Post

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *