HEADLINE NEWS

Kategori

Terdakwa Mengaku Berniat Membunuh Hakim Jamal karena Laporan Saksi Fiktif (Hoax)


Kabar 24Jam.Com
Medan-Sidang perkara kasus pembunuhan berencana Hakim Pengadilan Negeri (PN) Medan, Jamaluddin dengan terdakwa Zuraidah Hamum (42) bersama M Jefri Pratama alias Jefri (42), dan M Reza Fahlevi (28), kembali bergulir dengan agenda keterangan saksi seorang supir
freelance

Salah seorang saksi itu adalah
Giliran Liberti Hutasoit, terbilang "licik" yang sempat menjadi supir freelance (tidak menetap) dari terdakwa Zuraida Hanum (juga istri korban pembunuhan) dihadirkan tim JPU dari Kejari Medan dimotori Parada Situmorang.

Dalam penyelasannya, Saksi mengaku sesekali juga disuruh menjemput anak terdakwa dari sekolah. Terdakwa juga pernah cerita tentang anaknya (Zuraida Hanum) dan M Jefri Fahlevi (terdakwa pada berkas terpisah) kebetulan satu sekolah. Namun saksi lebih sering disuruh memantau korban Jamaluddin bepergian sepulang dari PN Medan.

Menjawab pertanyaan majelis hakim diketuai Erintuah Damanik, saksi mengaku selalu diminta terdakwa (Zuraidah Hanum) untuk memata-matain korban (Jamaluddin). Hanya saksi (Giliran Liberti Hutasoit) mengaku baru sekali menjalankan permintaan terdakwa Zuraida Hanum. 

"Saya hanya sekali saja membuntuti hakim yang akrab disapa Pak Jamal tersebut ke Brothers Cafe Jalan Zainul Arifin Medan,"jelas saksi

Selebihnya,saksi mengaku hanya membuat laporan fiktif (Hoax). 
Seolah melihat langsung korban bersama wanita lain. Termasuk ke tempat kos-kosan asisten pribadi (aspri) korban juga jelita berinisial Ct. Saksi hanya mengirimkan titik lokasi aplikasi WA (share loc) kepada Zuraidah Hanum.

Saat Majelis Hakim Erintuah mengkonfrontirnya,  terdakwa Zuraida menyatakan, salah satu penyebnya karna laporan saksi yang fiktif itulah ada niat terdakwa untuk ‘menghabisi’ nyawa Jamaluddin. 

“Karena laporan dialah (Liberti Hutasoit) Pak Hakim, saya sakit hati. Dan timbul niat membunuh suami saya,” kata terdakwa.

Parada Situmorang kemudian mencecar saksi tentang beberapa kali menerima imbalan dari terdakwa. Menurut  Liberti ada tiga kali menerima uang dari terdakwa Rp2 juta, ketika ibunya sakit. Lalu Rp6 juta ketika ayahnya meninggal. Serta Rp10 juta untuk bangun rumah karena masa kontrakannya sudah mau habis.

Namun saksi tidak bisa memastikan apakah kebaikan majikannya itu salah satu trik agar dirinya bersedia ‘menghabisi’ nyawa korban atau tidak.

Di bagian lain, saksi menerangkan, ketika mengemudikan mobil Honda HRV putih, beberapa kali terdakwa Zuraida yang duduk di jok belakang curhat tentang kelakuan suaminya (Hakim Jamal) yang diduga selingkuh dengan wanita lain.

“Ibu (terdakwa Zuraida Hanum) pernah minta tolong untuk membunuh Bapak (Jamaluddin). Saat di dalam mobil. Saya menyetir di depan. Ibu itu duduk di jok belakang. Awalnya ibu itu cerita kelakuan Bapak kemudian menangis. Bagaimana cara melakukan pembunuhan tidak sempat diterangkan. Tapi saya nggak mau membunuh Bapak,” bilang Liberti.

Ketika dicecar majelis hakim, saksi menyatakan, tetap pada keterangannya tentang upaya terdakwa Zuraida Hanum mempengaruhinya dengan sembunyi-sembunyi menunjukkan tulisan angka 100 juta ketika mereka bertemu di ruang juper Polrestabes Medan, agar dia mencabut keterangannya di BAP.

Namun ketika dikonfrontir lagi, terdakwa Zuraida Hanum membantah keterangan mantan supir freelancenya itu.

Sementara menjawab pertanyaan JPU Parada Situmorang, dua saksi lainnya atas nama Lasma Sagala dan Rifki Harefa, sesama pedagang pakaian bekas (Monza) di Pasar Tradisional Melati membenarkan pernah dikonfrontir penyidik Polrestabes Medan dengan terdakwa M Reza Fahlevi.

Saksi Lasma mengaku masih ingat kalau terdakwa M Reza pernah membeli jaket terbuat dari kain dan semi kulit dari tempat dagangannya. Jaket kain dijadikan penuntut umum sebagai barang bukti.

Sedangkan jaket semi kulit dikenakan terdakwa ketika ‘menghabisi’ korban berikut sepatu sport merek(Red)

Previous
« Prev Post

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *