HEADLINE NEWS

Mantan Kabid Sarana dan Prasarana Dispora Divonis Satu Tahun Kurungan


Kabar24Jam.Com
Medan-Sujamrat (58) mantan Kepala Bidang (Kabid) Sarana dan Prasarana Dinas Pemuda Dan Olahraga (Dispora) Sumut,terdakwa kasus tindak pidana korupsi Lintasan Sirkuit Atletik PPLP Sumut TA 2017 divonis Majelis Hakim Syafril Batubara dengan 1 tahun penjara di ruang Cakra 8 Pengadilan Tipikor Medan, Kamis(23/4) sore.

Dalam amar putusannya Majelis Hakim yang diketuai Syafril Batubara mengatakan, selain hukuman itu terdakwa Sujamrat juga dibebankan dengan Uang Pengganti (UP) kerugian negara sebesar Rp 674 juta, dan sudah dibayarkan. 

"Memutus, terdakwa Sujamrat dijatuhkan kurungan dengan 1 tahun kurungan dengan denda Rp 50 juta subsider 3 bulan," putus Hakim Syafril Batubara. 

Mendengar putusan tersebut, Jaksa Penuntut Umum dan Pengacara sujamrat kompak menyatakan menerima putusan tersebut. 

Sedangkan pada sidang putusan itu Majelis Hakim sependapat dengan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Benhar bahwa terdakwa terbukti bersalah melanggar Pasal 3 Jo. Pasal 18 UU No.31 tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU No. 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 1 KUHAPidana. 

Diketahui pada sidang sebelumnya, terdakwa dituntut dengan 1.5 tahun denda Rp 50 juta dan subsider 6 tahun kurungan. 

Selain Sujamrat, diketahui dua terdakwa lainnya dimana Deddy Octavardian selaku Direktur PT Pajajaran Multicon dan Junaedi selaku Direktur PT Rian Makmur Jaya masing-masing divonis satu tahun dengan denda Rp 50 juta subsider 3 bulan pada minggu lalu. 

Sedangkan uang pengganti (UP), Deddy diwajibkan mengganti sebesar Rp 800 juta lebih, sedangkan Junaedi wajib mengganti kerugian negara sebesar Rp 35 juta.

Dalam dakwaan JPU, renovasi lintasan sirkuit dikerjakan bersama Junaedi dan Deddy Octavardian (berkas terpisah) pada Desember 2016 sampai Januari 2018. Pada tahun 2016, rencana kegiatan renovasi nantinya akan direkapitulasi menjadi Perencanaan APBD Dispora Sumut. Sekira Desember 2016, Sujamrat meminta Deddy untuk mengerjakan renovasi kegiatan tersebut.

Sujamrat meminta Deddy membuat surat penawaran sebagai bahan untuk pembuatan Harga Perkiraan Sendiri (HPS). Pada pertemuan itu, Deddy menawarkan lapisan sintetik merk Regupol untuk perencanaan renovasi lintasan Sirkuit.

"Pada Januari 2017, Deddy mengirimkan dokumen kepada Sujamrat melalui alamat Dispora Sumut. Saat proses tahap evaluasi adminstrasi, teknis dan harga, ternyata PT Tamarona Putri Masro dengan nilai lebih rendah yaitu Rp 4 miliar dinyatakan tidak lulus. Sedangkan PT Rian Makmur Jaya yang nilai penawarannya lebih tinggi yaitu Rp 4.629.496.850 dinyatakan lulus administrasi oleh Tim Kelompok Kerja," pungkas Benhar.

Padahal, saat tahap evaluasi persyaratan teknis, ternyata PT Rian Makmur Jaya tidak memiliki surat dukungan dari distributor. Demikian juga PT Rian Makmur Jaya tidak dapat menunjukkan bukti kepemilikan terhadap daftar peralatan baik sewa maupun milik sendiri.

"Namun, Tim Kelompok Kerja tetap meluluskan PT Rian Makmur Jaya sebagai pemenang lelang kepada Sujamrat," cetus JPU.

Selanjutnya, PT Rian Makmur Jaya yang ditetapkan sebagai pemenang lelang tidak pernah melaksanakan pekerjaan. Pekerjaan tersebut dilaksanakan pihak lain yaitu Deddy selaku Direktur PT Pajajaran Multicon.

Pada tanggal 20 Juli 2017, Sujamrat meminta uang sebesar Rp 10 juta untuk biaya pembuatan dokumen kontrak, lalu tanggal 31 Juli 2017, saat Junaedi mengajukan uang muka 20 persen, Sujamrat meminta fee 2 persen atau Rp 14 juta. Kemudian, tanggal 21 Agustus 2017, Deddy mengambil uang Rp 100 juta dari Bank Mandiri yang langsung diserahkan kepada Sujamrat.

"Pada tanggal 24 Agustus 2017, Sujamrat datang ke Jakarta dan meminta kembali uang Rp 100 juta kepada Deddy," ujar JPU.

Dimana total dari yang diterima Sujamrat dari pihak ketiga (kontraktor) seluruhnya senilai Rp 674 juta dari total kerugian negara Rp 1.537.273.395 (Red)

Previous
« Prev Post

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *