HEADLINE NEWS

Kategori

Perantara Terima Suap Rp 24 Miliar, Tangan Kanan Exs Bupati Labuhanbatu Dituntut 7 Tahun Penjar


Kabar 24Jam.Com
Jumat 21/02/2020
Medan-Jaksa Penuntut Umum KPK menuntut terdakwa Umar Ritonga selaku tangan kanan eks Bupati Labuhanbatu Pangonal Harahap selama 7 tahun penjara denda Rp 250 juta subsider 4 bulan kurungan karena terbukti bersalah sebagai perantara penerima suap Rp 24 miliar di Pengadilan Tipikor Pengadilan Negeri (PN) Medan, , Kamis (20/2) Sore.

Jaksa Penuntut Umum  KPK Agung Wibowo dalam nota tuntutannya 
mengatakan terdakwa Umar Ritonga bersama-sama  mantan Bupati Labuhanbatu, Pangonal Harahap menerima hadiah yang seluruhnya mencapai Rp 24 miliar.

"Rincian dana tersebut diterima Pangonal pada tahun 2016 sejumlah Rp 500 juta, tahun 2017 Rp 6 miliar dan tahun 2018 Rp 17,5 miliar melalui terdakwa," ujar Agung dihadapan Majelis Hakim yang  dipimpin Jarihat Simarmata, 

Lebih rinci Jaksa Penuntut Umum  KPK Agung Wibowo menyebutkan
penerimaan uang sejumlah Rp 6,5 miliar itu terkait proyek pekerjaan di Pemkab Labuhanbatu TA 2016 dan 2017.

Jaksa Penuntut Umum  KPK Agung Wibowo menjelakan, perbuatan terdakwa Umar Ritonga melanggar Pasal 12 dan atau Pasal 11 Undang-Undang RI Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

"Meminta kepada ketua Majelis 
Hakim untuk menjatuhkan Umar Ritonga selaku tangan kanan eks Bupati Labuhanbatu Pangonal Harahap selama 7 tahun penjara denda Rp 250 juta subsider 4 bulan kurungan,"sebut Jaksa Penuntut Umum KPK Agung Wibowo kepada Ketua Majelis Hakim Jarihat Simarmata, 

Usai Jaksa Penuntut Umum  
KPK Agung Wibowo membacakan tuntutannya Ketua Majelis Hakim 
Jarihat Simarmata, menunda sidang dan akan dilanjutkan pekan depan

"Sidang kita tunda sampai pekan depan,"sebut Majelis Hakim sembari mengetukkan palunya.

Diketahui kasus ini awalnya, pada akhir Desember 2015, Tamrin Ritonga selaku Ketua Tim Sukses Pemenangan Pilkada sekaligus tokoh masyarakat di Labuhanbatu bersama dengan Pangonal Harahap melakukan pertemuan dengan Asiong di Hotel Grand Angkasa Medan.

"Dalam pertemuan tersebut, Asiong bersedia memberikan pinjaman uang guna membayar hutang Pangonal kepada pengusaha Aswan Riyadi dan Aswin Riyadi di Medan,"sebutnya

Pada petemuan itu kata Agung. Asiong menyetujuinya dan sebagai kompensasinya, dia mendapatkan beberapa paket pekerjaan dari Pangonal.

Menindaklanjuti kesepakatan tersebut, Asiong membayarkan hutang Pangonal pada Februari 2016 kepada Aswan Wiryadi dan Aswin Wiryadi sejumlah Rp 3,49 miliar. 

“Pada awal Mei 2016, Pangonal memanggil Supriyono selaku Ketua Unit Layanan Pengadaan (ULP) Kabupaten Labuhanbatu meminta agar jajarannya memenangkan kawan-kawan termasuk Asiong dalam lelang pengadaan proyek pekerjaan TA 2016,” cetus Agung.

Akhirnya, perusahaan-perusahaan yang digunakan Asiong diumumkan sebagai pemenang proyek seperti peningkatan Jalan Aek Paing-Bukit Perjuangan Kelurahan Aek Paing Kecamatan Rantau Utara, lanjutan peningkatan Jalan Patuan Nalobi, Jalan Jurusan Mailil Padang Haloban, Laanjutanpeningkatan Jalan jurusan Urung Kompas-N2 Kecamatan Rantau Selatan/Bilah Hulu, Lanjuta peningkatan jalan Jurusan Bandar Tinggi-Padang Haloban.

Selain itu, peningkatan Jalan Jurusan Suka Makmur-Tanjung Harapan Kecamatan Bilah Barat, lanjutan peningkatan Jalan Jurusan S6-Blok Songo (batas Kabupaten Labusel), lanjutan peningkatan Jalan Jurusan Simpang Jalan Negara-Padang Matinggi, pemeliharaan Periodik Jalan Jurusan Simpang Jalan Propinsi-Rintis Kecamatan Bilah Hulu.

Lalu pada Desember 2017, Pangonal kembali menerima uang seluruhnya sejumlah Rp 6 miliar dari Asiong melalui terdakwa Umar Ritonga
sebagai pemenuhan komitmen fee atas pekerjaan yang telah dilakukan pada TA 2017 dengan cara pencairan cek.

"Pencairan itu dilakukan terdakwa di Kantor Bank Cabang Rantauprapat dengan menggunakan KTP miliknya sebagai syarat pencairan. Setelah uang dicairkan, terdakwa langsung memberikan uang tersebut kepada Pangonal di rumah dinas," sebut Agung.

Jumlah uang yang telah diterima Pangonal dari Asiong melalui terdakwa sebagai fee proyek atas pemberian beberapa paket pekerjaan adalah Rp 6,5 miliar. Sementara penerimaan uang sejumlah Rp 17,5 miliar terkait proyek pekerjaan di Pemkab Labuhanbatu TA 2018. Awalnya, pada tanggal 23 Juni 2018, Asiong menyuruh karyawannya untuk menyerahkan cek bank sebesar Rp 17,5 miliar dari PT Binivan Konstruksi Abadi nomor rekening kepada Pangonal.

Asiong meminta terdakwa Umar untuk mencairkannya. "Setelah mencairkan cek tersebut di Kantor Bank Sumut Cabang Rantauprapat, terdakwa menyerahkan uang tersebut kepada Pangonal di rumah dinas," ucap Agung.

Disebutkan Agung, Pada 17 Juli 2018, Tamrin kembali menghubungi Asiong dan menanyakan uang Rp 500 juta yang diminta Pangonal tersebut.

"Setelah itu, Tamrin menghubungi terdakwa dan meminta agar mengambil uang Rp 500 juta di Bank Rantauprapat. Setelah mengambil uang tersebut, petugas KPK berupaya menghentikan terdakwa. Namun, tidak berhasil dan terdakwa melarikan diri dengan membawa uang Rp 500 juta tersebut,"pungkas Agung Wibowo

Pada perkara ini juga diketahui, terdakwa Umar Ritonga sempat membawa kabur uang Rp 500 juta saat Operasi Tangkap Tangan (OTT) terjadi. Selama pelariannya, dia menghabiskan uang tersebut untuk membeli satu unit rumah di atas satu hektar lahan sawit di Kabupaten Siak. Tanah dan bangunan ini telah disita KPK.

Pria asal Dusun Padang Rapuan Desa Sibargot Kecamatan Bilah Barat ini sempat melarikan diri ketika akan ditangkap KPK dan masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) pada 24 Juli 2018. Pada tanggal 25 Juli 2019, Umar menyerahkan diri ke KPK.(Red)

Previous
« Prev Post

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *