HEADLINE NEWS

Terkait 'Preman Halangi awak media Meliput Sidang di PN Medan, Ketua PWI Sumut: Jangan Biarkan Preman ‘Kuasai’ Pengadilan


Kabar 24 Jam.Com
Jumat 24/01/2020
Medan-Tan Sri Chandra aliasTan Ben Chong (73),terdakwa pencemaran nama baik dan penghinaan lewat
akun Grup WA marga Tan, yang di
duga sengaja kerahkan puluhan preman 'bayaran' untuk menghalangi awak media meliput jalan sidang di PN Medan Rabu (22/1) sore mendapat kecaman dari Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sumut Hermansjah.

Ketua Persatuan Wartawan Indonesia
(PWI) Sumut Hermansjah, dalam pernyataan sikapnya menyebutkan,
peristiwa pengerahan puluhan preman
untuk menghalangi awak media meliput di Ruang Cakra VI Pengadilan Medan saat persidangan kasus pencemaran nama baik dan penghinaan digelar dengan terdakwa Tan Sri Chandra alias Tan Ben Chong (73) agar tidak terulang lagi.

"Kita minta agar pihak kepolisian
cepat memberikan tindakan
preventif ke gedung Pengadilan
Negeri (PN) Medan dan jangan
biarkan preman ‘menguasai’ ruang sidang untuk menghalang-halangi awak media meliput jalannya persidangan,"tegas Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sumut Hermansjah ketika dihubungi wartawan lewat WhatsApp (WA) Kamis (23/1/2020)

Dikatakan Hermansjah, 
apa lagi pengerahan massa
preman yang sengaja ‘menguasai’ arena sidang dengan cara berkumpul di pintu Cakra 6 PN Medan untuk menghalang halangi awak media meliput sidang bisa dijadikan pelajaran ke depannya. 

“Apa pun agenda sidangnya. Masyarakat pencari keadilan harus leluasa mengikuti jalannya sidang. Dan PN Medan berhak melindungi pencari keadilan. Apalagi ketika awak media melaksanakan tugas-tugas peliputan,” tegas Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sumut Hermansjah pada wartawan.

Menurutnya tugas-tugas jurnalistik yakni sebagai sarana mendidik publik adalah salah satu pekerjaan mulia dan dilindungi oleh UU No. 40 Tahun 1999 tentang Pers. "

Menghalangi kebebasan tugas-tugas peliputan artinya mencederai UU Pers,"sebutnya

Salah satu solusi, imbuh Hermansjah, pimpinan di PN Medan dan Polrestabes Medan idealnya duduk bersama guna melakukan koordinasi. Misalnya membuka sambungan call center manakala ada aksi pengerahan massa di institusi pengadilan.

 "Ya termasuk menghalang-halangi tugas-tugas jurnalistik maupun warga pencari keadilan,"sebutnya mengakhiri.

Sebelumnya, di ketahui, beberapa pria berbadan tegap yang diduga 'preman bayaran' sengaja berdiri di pintu masuk Ruang Cakra 6. Arogansi massa tidak tanggung-tanggung. Mereka nekat mensortir pengunjung sidang. Termasuk awak media yang setiap harinya meliput berita sidang di Pengadilan Negeri Kelas I A Khusus tersebut.

Hab, salah seorang wartawan media online di Medan pun sempat terlibat cekcok dengan massa preman di pintu tersebut. Karena tidak diperbolehkan masuk, Hab kemudian meminta bantuan tenaga sekuriti pengadilan dan akhirnya diperbolehkan masuk.

“Tadi saya sudah minta tolong mau masuk ruang sidang. Kubilang dari media. Tapi macam tidak mereka dengar. Ada pula malah memelototi saya. Kalau saya ladeni takutnya ribut dan mengganggu jalannya sidang,” urainya.

Pada sidang sebelumnya, saksi korban Tony Harsono merasa nama baiknya tercemar karena postingan terdakwa di WA Grup Marga Tan menyebutkan ‘G6 merampok uang IT&B Rp2,4 miliar’.

Di tanggal 16 April terdakwa mengirim gambar/tulisan kalimat: “INGAT G6. MERAMPOK UANG IT&B JUMLAH RP 2.400.000.000 (dua koma empat miliar rupiah) di grup WhatsApp YS Lautan Mulia. YA CUKUP BELI MOBIL MEWAH”

“Mana buktinya kami merampok? Sementara uang yang kami terima itu adalah uang kompensasi supaya kami mundur dari yayasan. Persisnya kami dipaksa mundur supaya dia (terdakwa) menguasai yayasan (Lautan Mulia-red) itu,” urainya (Red)

Previous
« Prev Post

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *