HEADLINE NEWS

Kisah Pelaku Pernikahan Dini: Siswi SMP Ini Bingung Bicara Sama Orangtuanya Kalau Dirinya Hamil

Ilustrasi pernikahan dini - ISTIMEWA

Kabar24Jam Minggu 12/01/2020-Tingginya angka perceraian di Jateng, salah satu penyebabnya adalah perkawinan dini atau di bawah usia 19 tahun.

Di tahun 2019 ini terdapat 3.865 pasangan menikah di usia muda.

Tribun Jateng menemui salah satu pasangan yang menikah di usia muda. Yaitu pasangan suami istri Joko Prihatin (22) dan Sri Murni (20).

Dikutup dari Tribun Jatim.Com Keduanya merupakan pasangan yang menikah di usia muda.

Joko saat itu masih berusia 18 tahun dan Sri masih duduk di bangku SMP.

Selain perasaan saling menyayangi dan mencintai, pernikahan mereka dilakukan karena faktor 'bencana'.

"Ya, saat itu istri saya hamil di luar nikah. Waktu itu perasaan sudah campur aduk.

Mau bilang ke orangtua tidak berani karena kami masih sekolah.

Kalau mau menggugurkan kandungan takut ditangkap polisi," terang warga Ungaran, Kabupaten Semarang ini.

Kemudian dengan berbagai pertimbangan, Joko dan Sri memutuskan untuk menceritakan kondisi mereka berdua kepada orangtua masing-masing.

Sudah pasti orangtua mereka kaget dan heran dengan kondisi yang dialami oleh anaknya.


"Bapak ibu sempat tidak percaya dan syok.

Orangtua mana yang tidak kaget jika anaknya yang masih sekolah sudah melakukan hubungan layaknya suami istri.

Bahkan hingga hamil anaknya. Tapi mau bagaimanapun itu sudah terjadi," katanya.

Joko dan Sri mengaku menyesal dengan apa yang sudah mereka lakukan.

Mau tak mau Joko yang masih berstatus siswa SMA dan Sri yang masih SMP harus keluar.

Keduanya kemudian dinikahkan tanpa diadakan resepsi.

"Kami berdua tidak punya persiapan apapun.

Modal nikah juga hanya dari orangtua. Jadi kami hanya melakukan akad nikah tanpa resepsi.

Yang penting sesuai dengan agama dan aturan pemerintah," jelas Joko.

Karena usia mereka yang masih tergolong di bawah umur, Joko dan Sri harus mengurus surat permohonan dispensasi nikah di Pengadilan Agama Kabupaten Semarang.

Keduanya harus melengkapi beberapa berkas yang dipersyaratkan oleh KUA.

"Seperti KTP, KK, Akta Kelahiran, dan surat penolakan dari KUA karena kami berdua belum cukup umur untuk melakukan pernikahan.

Prosesnya sekitar dua hari saja kalau tidak salah," imbuhnya.

Usai mendapatkan surat dispensasi nikah, keduanya pun melangsungkan pernikahan didampingi orangtua masing-masing dan dibimbing oleh seorang penghulu.

Sejak saat itu Joko mau tak mau harus bekerja serabutan. Mulai menjadi kuli bangunan hingga kuli panggul di pasar.

"Penginnya saya bisa bekerja jadi buruh pabrik. Tapi karena SMA tidak tamat jadi hanya bisa bekerja seadanya yang penting halal dan bisa untuk mencukupi kebutuhan anak istri," tegas Joko.

Setelah melahirkan, Sri kemudian ikut bekerja untuk membantu Joko.

Dirinya bekerja sebagai buruh kasar di sebuah industri kecil pembuat besek.

Dalam seminggu Sri bisa mengantongi upah sebesar Rp 50 ribu.

"Ya dicukup-cukupkan. Yang penting kebutuhan anak ada. Karena kalau hanya mengandalkan penghasilan dari suami tentu jauh dari cukup," ujar Sri.

Mereka berdua hingga kini masih tinggal di rumah orangtua Sri.

Dalam benak Sri ada keinginan untuk memiliki rumah sendiri dan bisa hidup lebih mandiri.

Namun Sri masih belum yakin kapan mimpinya itu bisa terwujud. "Bisa mencukupi kebutuhan keluarga itu sudah syukur bagi kami.

Masa lalu kami akan jadi pelajaran untuk anak-anakku nanti supaya tidak seperti bapak ibunya," pungkas Sri. (@.Red)

Previous
« Prev Post

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *