HEADLINE NEWS

Dituntut Mati, Kurir 170 Kg Ganja Menangis Baca Peledoi



Kabar24Jam.Com
Sabtu 11/01/2020
 Medan- Terdakwa Boi Haky terdakwa kasus kepemilikan narkoba jenis Ganja seberat 170 Kg yang telah di tuntut hukuman mati menangis di hadapan Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Medan, dalam sidang lanjutan  beragendakan pembacaan pembelaannya (peledoi) di Ruang Cakra VI, Jumat (10/01).

Dalam pembacaan nota pembelaan
nya (peledoi) terdakwa menyebutkan kalau dirinya mengaku bersalah dan tidak mengulanginya lagi. "Saya mengaku bersalah, saya tidak akan mengulangi lagi. Saya tak ngerti sebenarnya pak, saya tak ngerti begini, anak saya masih kecil pak," ucap Boi sembari tangis memohon keringanan hukuman dari hakim.

Pada persidangan itu juga, Penasehat Hukum terdakwa Sari Okta Sembiring, SH, kepada Ketua Majelis Hakim Irwan Efendi juga bermohon agar kliennya tidak di hukum mati.

"Kami tidak sependapat dengan tuntutan Jaksa Penuntut Umum. Di mana unsur tidak terpenuhi. Terdakwa berlaku sopan di persidangan, kami mohon putusan seringan-ringannya majelis," kata Sari Okta Sembiring, SH kepada Majelis Hakim

Sementara itu, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Sri Wahyuni, SH  tak bergeming dan tetap bertahan pada tuntutan mati tersebut."Tetap pada tuntutan mati pak hakim," ujar JPU menjawab peledoi terdakwa.

Lebih jauh, penasehat hukum terdakwa menyampaikan di luar persidangan kliennya tidak seharusnya dihukum mati.

"Dia hanya mengantar. Karena dalam kasus ini siapa pembeli dan penjual kita  tidak tahu. Harapan kami satu sisi dia belum pernah dihukum seharusnya jadi pertimbangan yang besar, seharusnya pidana mati diberikan kepada pelaku yang berulang melakukan," pungkasnya.

Pantauan di PN Medan Boi yang hadir dengan menggunakan dua tongkat berjalan tertatih-tatih sembari menahan sakit, karna saat penangkapan kaki sebelah kanannya diterjang peluru.

Sementara kedua orang tua terdakwa Boi yang menyaksikan jalannya persidangan tampak dengan tekun mendengar anaknya membacakan nota pembelaan (peledoi)

Usai sidang, saat berjalan menuju ruang tahanan sementara PN Medan kedua orang tua terdakwa sambil berjalan terlihat tak kuasa menahan tangis kedua orang  terdakwa menangis tersedu sembari memeluk terdakwa Boi Haky

Sebelumnya diketahui, pada persidangan sebelumnya beragendakan tuntutan, JPU Sri menuntut terdakwa Boi kurir ganja seberat 170 kilogram dengan pidana mati.

JPU menilai perbuatan terdakwa diatur dan diancam pidana melanggar pasal 114 ayat (2) jo pasal 132 ayat (1) UU RI N.35 tahun 2009 Tentang Narkotika.

Mengutip dakwaan JPU, bahwa terdakwa Boi bersama-sama dengan saksi Darman Bustaman  dan saksi Muklis (keduanya dilakukan penuntutan secara terpisah) serta Hendrik dan Jumadi (DPO) pada hari Kamis tanggal 16 Mei 2019 bertempat di Jalan Bunga Raya Kec. Medan Sunggal Kota Medan.

“Melakukan percobaan  atau permufakatan jahat  untuk melakukan tindak pidana  menawarkan untuk dijual, menjual, membeli, menjadi perantara dalam jual beli, menukar, menyerahkan, atau menerima Narkotika Golongan-I dalam bentuk tanaman yang beratnya lebih dari 5 (lima) gram, lberupa narkotika jenis daun ganja seberat 170 (seratus tujuh puluh) Kg," ucap JPU.

Jaksa Sri menerangkan, terdakwa akan diberikan uang sebesar Rp. 2.000.000 apabila berhasil mengantarkan ganja tersebut, yang nantinya uang tersebut akan diserahkan oleh Darman Bustamam yang disetujui oleh terdakwa.

Belum sempat mengantarkan barang haram tersebut Boi ditangkap oleh petugas Polda Sumut. Selanjutnya terdakwa Boi ditahan untuk mempertangung jawbakan perbuatan.(Red)

Previous
« Prev Post

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *