HEADLINE NEWS

Kasus Penganiayaan Ibu Hamil Tak Kunjung P21 Kapolrestabes Diminta Evaluasi Kinerja Kanit Reskrim Polsek Helvetia


KABAR 24JAM-Korban penganiayaan, NM (30) malah dilaporkan balik oleh pasangan suami istri (pasutri) yakni seorang dosen berinisial BS (37) dan istrinya LS (35) yang sudah ditetapkan sebagai tersangka karena telah menganiaya korban. Bahkan walaupun korban sudah berjuang demi tegaknya hukum dari mulai membuat laporan, visum hingga menghadirkan 2 saksi dan mengikuti prosedur lainnya, akan tetapi hingga sekarang pasutri tersebut tak kunjung ditahan, kedua tersangka juga terkesan diistimewakan hanya sebatas wajib lapor saja ke Polsek Helvetia.

Untuk itu, korban meminta keadilan dalam kasus yang dialaminya. Apalagi, saat kedua tersangka meminta berdamai, korban sempat membuka pintu perdamaian. Namun, alangkah terkejutnya NM yang jelas sedang hamil dianiaya kedua tersangka malah dilaporkan balik ke Polrestabes Medan dengan tuduhan telah menganiaya tersangka.

Diketahui, korban akan dipanggil untuk dimintai keterangannya ke Gedung Sat Reskrim Polrestabes Medan, Senin (9/12) sebagai saksi dalam kasus yang dituduhkan kepadanya.

"Walaupun saya lagi hamil begini saya sebagai warga negara yang taat hukum siap hadir memberikan keterangan karena saya benar dan memang menjadi korban penganiayaan pasangan suami istri yang sudah ditetapkan sebagai tersangka oleh Polsek Helvetia. Saya yang korban kenapa saya pula yang dilaporkan menganiaya mereka. Allah tidak tidur," tegas korban saat diwawancarai, Sabtu (7/12/2019).

Sementara itu, Sumantri yang merupakan suami korban meminta pihak kepolisian bersifat fair dengan slogan Polri yang promoter.

"Jadi saya  sudah cukup lama menunggu kasus ini oleh Polsek Helvetia untuk diproses dan saya juga sudah cukup lama menunggu kinerja dari Polsek tersebut," kata Sumantri, suami korban kepada wartawan, Sabtu (7/12).

Dikatakannya, dirinya memohon dan meminta kepada Kapoldasu Irjen Agus Andrianto melalui Kapolrestabes Medan, Kombes Pol Dr. Dadang Hartanto untuk mengevaluasi kinerja Kanit Reskrim Polsek Helvetia Iptu Suyanto Usman karena kasus yang dialami istrinya sudah dilaporkan begitu lama dan sampai hari ini pun berkasnya belum dilimpahkan ke  kejaksaan.

"Kasus ini masih tergantung-gantung gitu dan belum ada kejelasannya. Saya berharap kepada Bapak Kapoldasu dan Bapak Kapolrestabes Medan untuk mengevaluasi kinerja Kanit Reskrim Polsek Helvetia, Iptu Suyanto Usman karena dinilai sangat lamban dalam menangani dan melimpahkan berkas kasus penganiayaan istri saya kepada pihak kejaksaan. Kasus ini masih mengambang, walaupun kedua pelaku sudah ditetapkan sebagai tersangka dan atas penilaian penyidik bahwa para pelakunya tidak dilakukan penahanan, saya harap kasus yang menimpa istri saya bisa dengan segera selesai hingga azas persamaan di mata hukum bisa dirasakan oleh masyarakat dan bisa diterapkan secara profesrsional dengan tidak berpihak kepada siapapun," harapnya.

"Saya percaya polisi akan bekerja dan menilai kasus yang ada dengan baik dan adil sehingga warga menjadi nyaman dengan meminta bantuan ke kepolisian
sesuai dengan keadilan yang diberikan kepada hak warga negara Indonesia," pintanya.

Masih kata Sumantri, saat dirinya meminta kejelasan SPDP dari penyidik yang menangani kasus, Bripda Olivia Manullang mengatakan berkas kasus tersebut sudah diserahkan ke kejaksaan.

"Penyidiknya bilang akan dilimpahkan ke JPU. Sudah saya kirim (ke JPU) judulnya belum limpah karena belum P21," kata suami korban menirukan ucapan penyidik yang saat itu ditelfonnya.

Saat disinggung apakah berkas tersebut masih P19, Bripda Olivia mengaku berkas belum sampai juga P19. Jangankan P21, P19 saja belum terselesaikam penyidik.

"Oh belum, P19 pun belum, (berkasnya) masih diteliti sama jaksanya. Berkasnya masih di kejaksaan masih diteliti," katanya.

Kemudian, ketika korban meminta identitas jaksa peneliti yang memeriksa berkas korban, Bripda Olivia tidak memberikannya karena mengaku tidak boleh sembarangan memberitahu identitas jaksa peneliti.

"Dia (penyidik) bilang ke saya nanti saya izin dulu sama jaksanya yah nggak bisa sembarangan, kalau dia nggak berkenan nggak boleh. Namanya saya kan bukan satu instansi dengan mereka (kejaksaan) jadi kami (polisi) saling menghargai," kata Sumantri mengulangi perkataan penyidik.

Sumantri juga mengaku heran kenapa istirnya yang menjadi korban tidak boleh mengetahui siapa jaksanya. Sementara penyidik terkesan memberikan 'angin surga' kepada korban. Sumantri mengatakan bahwa penyidik menjelaskan berkas kasus istrinya sudah seminggu yang lalu diserahkan ke kejaksaan, masuk melalui ke sekretariat lalu disposisi ke jaksa yang memeriksa, sampai di jaksa baru diteliti lagi.

"Kenapa lama sekali berkasnya dilimpahkan ? Kalau begini saya kecewa dengan kinerja Polsek Helvetia," ungkapnya.

Namun sampai sekarang berkas tersebut seakan jalan di tempat dengan berbagai alibi dari penyidik.

Menanggapi kinerja Polsek Helvetia dalam kasus ini membuat praktisi hukum Zulheri Sinaga angkat bicara. Dirinya mengatakan bahwa setiap orang berhak untuk melaporkan seseorang kalau memang diduga melakukan tindak pidana.

"Persoalannyakan sekarang penyidik harus fair. Logis nggak seorang ibu hamil yang usia kandungan pada saat kejadian sudah 5 bulan bisa menganiaya seorang pria dewasa dan seorang wanita dewasa secara bersamaan, kan agak lucu itu," katanya.

"Jangankan polisi sebagai penyidik, kita masyarakat awam saja menilai kejadian itu riskan sekali. Kita mendukung proses hukum bagi setiap warga negara karena setiap warga negara harus taat pada hukum karena Indonesia ini adalah negara hukum dan penegak hukum itu tidak boleh berat sebelah, tidak boleh ada keberpihakan dan harus independen," tegasnya.

Sebab, lanjut dikatakannya, polisi sebagai pelayan dan pelindung masyarakat, siapapun dia, polisi harus memberikan perlindungan hukum.

Dirinya juga terheran-heran dan seakan terkejut saat korban malah dilaporkan balik dituduh menganiaya kedua tersangka ke Polrestabes Medan. Menurutnya, kasus tersebut terasa ganjil dimana korban dianiaya pada 23 Oktober 2019 sekira pukul 19.00 Wib dan telah dilaporkan ke Polsek Helvetia di hari yang sama dengan bukti LP/760/X/2019/SU/ Polrestabes Medan/ Sek. Medan Helvetia. Sementara kedua tersangka baru melaporkan korban ke Polrestabes Medan dengan LP/2502/K/XI/2019/ SPKT Restabes Medan, tanggal 2 November 2019.

"Aduh, aku kalau Senin ini tak keluar kota, aku mau mendampingi korban. Geram kali aku kalau dengar kasus kayak gini. Udah jadi korban penganiayaan secara bersama-sama malah dilaporkan pula lagi (korban) ke Polrestabes Medan," ucapnya.

Zulheri juga menilai kalau kedua pasutri pelaku penganiayaan itu sudah ditetapkan sebagai tersangka harus segera ditangkap, lengkapi berkasnya dan segera mungkin limpahkan ke kejaksaan.

"Seseorang itu yang dijadikan tersangka dilakukan penahanan ada 3 alasan, alasan pertama apabila penyidik khawatir tersangka melarikan diri, yang kedua mengulangi perbuatannya dan yang ketiga menghilangkan barang bukti. Nah kalau orang hamil dianiaya, bukti sudah cukup namun tersangka tidak ditahan, saya pikir ini penyidiknya perlu dipertanyakan kredibilitasnya sebagai penyidik dan saya rasa perlu juga dievaluasi Kanit Reskrimnya, berarti kan tidak ada kontrol dia pada anak buahnya," katanya.

"Masa kasus begitu saja tak selesai-selesai. Kenapa tak kunjung P21 ? Saya rasa wajar saja bila Kapolrestabes Medan mengevaluasi kinerja Kanit Reskrimnya," pungkasnya.

Sebelumnya, pasangan suami istri BS dan LS tega menganiaya tetangganya sendiri hanya persoalan anjing menggonggong di Komplek Perumahan Mega Town House, Jl. Bakti Luhur, Medan Helvetia, Rabu (23/10) lalu. Dimana setelah korban dianiaya tersangka LS lalu datang suaminya BS malah ikut memukul dan membanting korban. (Red/737 )

Previous
« Prev Post

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *