HEADLINE NEWS

Dosen Fakultas Hukum UNHAR Sosialisasi Kearifan Lokal Dalam Mengatasi Konflik Horizontal Pada Masyarakat.





KABAR 24JAM, MEDAN

Salah satu kegiatan Tri Dharma Perguruan Tinggi adalah pengabdian pada masyarakat.
Dimana kegiatan ini dilakukan untuk mengaplikasikan ilmu pengetahuan yang didapat di perguruan tinggi, hal ini dapat dimanfaatkan oleh masyarakat dalam berkehidupan berbangsa dan bernegara dan bermasyarakat.

Tri Dharma Perguruan tinggi adalah kegiatan wajib bagi setiap dosen berdasarkan peraturan pemerintah RI nomor 4 tahun 2004 tentang penyelenggaraan pendidikan tinggi dan pengelolaan perguruan tinggi pasal 1 angka 15.

" Standart nasional pendidikan tinggi adalah satuan standard yang meliputi standar nasional pendidikan, ditambah dengan standar pengabdian kepada masyarakat," ucap penulis.

Lanjutnya lagi, Pengabdian pada masyarakat kali ini kami lakukan dibeberapa sekolah tingkat atas beberapa waktu lalu.

"Dengan tema: sosialisasi kearifan lokal dalam mengatasi konflik horizontal pada masyarakat Sumatera Utara" kearifan lokal atau dalam bahasa Inggris (local wisdom ) merupakan kekayaan bangsa Indonesia sebagai negara kepulauan. Kearifan lokal menjadi  salah satu cara dalam menemukan solusi dari permasalahan yang terjadi di masyarakat. Kearifan lokal memberikan keseimbangan di masyarakat yang berkonflik, karena kearifan lokal ini merupakan kebijakan-kebijakan yang memang telah ada dimasyarakat. Kearifan lokal dapat juga kita samakan dengan budaya. Yaitu budaya dalam mencari solusi dari permasalahan misalnya dengan musyawarah mengikuti aturan adat-istiadat yang ada di masyarakat," jelas dosen tetap di FH Unhar Medan ini.

Dalam UU nomor 7 tahun 2012 tentang penanganan konflik sosial menyebutkan pengembangan penyelesaian konflik sosial secara damai yaitu dengan musyawarah. Ini merupakan dasar bagi seluruh  masyarakat bahwa penyelesaian konflik di masyarakat tidak selalu dilakukan melalui pengadilan/litigasi namun dapat dilakukan melalui non litigasi atau penyelesaian diluar pengadilan yang dapat memberikan  ruang penyelesaian yang lebih nyaman bagi para pihak yang berkonflik. Penyelesaian seperti ini merupakan penyelesaian from heart to heart ( dari hati ke hati) mencari jalan keluar dari permasalahan dengan mempertimbangkan Asas keseimbangan.


Setiap kehidupan, tiada tampa masalah tapi masalah harus mendapat solusi untuk permaslahatan bersama.

Bahkan dalam kesederhanaan masyarakat yang dinamis dan memiliki kearifan kultural yang bila dimanfaatkan secara bijaksana akan sangat bermanfaat bagi proses penyelesaian berbagai masalah sosial.

Pada kasus yang terjadi ditengah masyarakat, integrasi sosial dapat berjalan dengan baik karena ada berbagai faktor yang mendukungnya.

Integrasi sosial dibangun secara kultural diatas kesadaran dan inisiatif lokal, hingga memiliki makna dan kekuatan dari dalam untuk merawat keragaman, baik agama, etnis maupun perbedaan kepentingan.

Hal ini berbeda dengan konsepsi integrasi sosial yang selama ini dipahami dan dipraktekkan dalam masyarakat selama tahun 1971-1998.

Keragaman dalam masyarakat selalu dipersepsikan sebagai sumber konflik yang mesti ditangani dengan cara-cara yang hegemonik, yaitu memaksakan penyeragaman dan penyederhanaan identitas nasional sebagai sesuatu yang tunggal.




Red/Kabar 24Jam

Previous
« Prev Post

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *